kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.765   12,00   0,07%
  • IDX 6.600   74,46   1,14%
  • KOMPAS100 864   11,98   1,41%
  • LQ45 654   10,59   1,64%
  • ISSI 230   0,99   0,43%
  • IDX30 366   6,01   1,67%
  • IDXHIDIV20 452   8,85   2,00%
  • IDX80 98   1,48   1,52%
  • IDXV30 125   1,21   0,98%
  • IDXQ30 117   2,14   1,86%

Wall Street Dibuka Melemah Selasa (1/9), Nasdaq Anjlok 1,29% di Awal September


Selasa, 01 September 2026 / 21:01 WIB
Wall Street Dibuka Melemah Selasa (1/9), Nasdaq Anjlok 1,29% di Awal September
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026).

Wall Street melanjutkan tren penurunan setelah kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak menekan sentimen investor di awal September.

Melansair Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 102,3 poin atau 0,19% menjadi 53.083,58. Indeks S&P 500 melemah 50,7 poin atau 0,66% ke level 7.635,47.

Baca Juga: Ekspansi Jadi Katalis, Simak Prospek Kinerja Emiten Rumah Sakit pada Semester II-2026

Sementara itu, Nasdaq Composite menjadi indeks dengan penurunan terbesar. Nasdaq turun 339,2 poin atau 1,29% ke 26.031,67.

Sentimen pasar tertekan oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Ketegangan yang kembali terjadi di Timur Tengah juga meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral perlu mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam tekanan inflasi.

Aksi jual di pasar US Treasury turut mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Kenaikan yield obligasi pemerintah AS yang dianggap sebagai aset bebas risiko biasanya mengurangi daya tarik saham karena meningkatkan biaya peluang investasi pada aset berisiko.

Baca Juga: Obligasi Korporasi Catat Return Positif hingga Agustus 2026

"Ada sedikit kekosongan. Faktor makroekonomi kembali memegang kendali dan kita akan menghadapi beberapa bulan hingga muncul pembaruan dari perusahaan. Jadi, kita berpotensi memasuki periode yang bergejolak atau konsolidasi," kata Angelo Kourkafas, Senior Global Investment Strategist Edward Jones.

Selain faktor makroekonomi, investor juga menghadapi pola musiman yang cenderung lemah pada September.

Berdasarkan data sejak 1926 yang dikutip Fisher Investments dari Finaeon, indeks S&P 500 rata-rata mencatat penurunan 0,7% pada September.

Kondisi tersebut menjadikan September sebagai bulan dengan kinerja historis terburuk bagi saham AS dan satu-satunya bulan dengan rata-rata imbal hasil negatif.

Meski demikian, Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial menilai tren historis tersebut belum menjadi alasan bagi investor untuk meninggalkan pasar saham.

"Fundamental saham dan ekonomi masih solid. Kami menilai investor akan lebih diuntungkan dengan tetap berinvestasi melewati gejolak musiman dibandingkan mencoba menentukan waktu yang tepat untuk keluar dan masuk pasar," ujarnya.

Baca Juga: Pasar Obligasi Menguat pada Agustus, Simak Proyeksinya hingga Akhir 2026

Data tenaga kerja jadi perhatian

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data pasar tenaga kerja AS. Departemen Tenaga Kerja AS akan merilis laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) pada Selasa, yang menjadi salah satu indikator penting kondisi pasar tenaga kerja.

Data tersebut akan menjadi perhatian menjelang rilis data nonfarm payrolls pada Jumat (4/9/2026), yang diperkirakan memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kondisi ketenagakerjaan AS.

Investor akan mencermati kedua data tersebut untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), terutama setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa pengendalian inflasi menjadi fokus utama bank sentral.

Baca Juga: Transaksi Kripto di INDODAX Melonjak 16% Jadi Rp 8,7 Triliun pada Agustus 2026

"Fokus The Fed tetap tertuju pada inflasi. Jika laporan payrolls berada di sekitar konsensus, hal tersebut akan memperkuat pandangan bahwa waktu perubahan kebijakan moneter berikutnya lebih bergantung pada perkembangan tekanan harga dibandingkan laju pertumbuhan lapangan kerja," tulis ahli strategi investasi Glenmede.

Tekanan juga terlihat pada saham-saham semikonduktor sebelum pembukaan pasar. Saham Nvidia, Intel dan AMD masing-masing turun antara 1,47% hingga 2,95%.

Di antara saham yang bergerak positif, Robinhood naik 1,51% setelah Morgan Stanley menaikkan peringkat saham perusahaan tersebut.

Sementara itu, saham Hut 8 menguat 1,37%. Penguatan terjadi setelah Reuters dan sejumlah media melaporkan bahwa perusahaan infrastruktur digital tersebut akan mengembangkan pusat data sebagai bagian dari kesepakatan cloud antara Anthropic dan Lambda.

Saham sektor energi justru menguat seiring kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 1,71%. Saham Exxon Mobil naik 1,49%, sedangkan Devon Energy menguat 1,44%.

Pergerakan Wall Street pada awal September dengan demikian masih dipengaruhi oleh kombinasi kenaikan yield Treasury, harga minyak, ketegangan geopolitik, serta penantian investor terhadap data ekonomi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×