kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Volume Produksi dan Efisiensi Menguat, Intip Prospek dan Target Saham NCKL


Selasa, 06 Oktober 2026 / 15:09 WIB
Volume Produksi dan Efisiensi Menguat, Intip Prospek dan Target Saham NCKL
ILUSTRASI. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) masih memiliki prospek positif hingga akhir 2026 meski menghadapi tekanan dari tren penurunan harga nikel (Dok/NCKL)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dinilai masih memiliki prospek positif hingga akhir 2026 meski menghadapi tekanan dari tren penurunan harga nikel dan produk intermediet. Peningkatan volume produksi serta efisiensi biaya menjadi faktor utama yang menopang kinerja emiten pertambangan tersebut.

Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menjelaskan, fundamental dan kinerja NCKL hingga akhir tahun 2026 akan ditopang oleh peningkatan volume produksi.

Pertumbuhan produksi terutama berasal dari penambahan kapasitas lini Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) KPS serta kontribusi tambahan dari Gane Tambang Sentosa.

Selain peningkatan produksi, penyesuaian formula Harga Patokan Mineral (HPM) juga dipandang dapat memberikan dampak positif terhadap efisiensi perseroan. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi membantu NCKL menekan beban royalti pada periode mendatang.

Baca Juga: Efisiensi HPAL Mumpuni, Intip Prospek dan Target Saham Trimegah Bangun Persada (NCKL)

"Selain itu, posisi perusahaan sebagai cash cost terendah di coverage kami juga menjadi bantalan ketika harga nikel melemah," ungkap Harry kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

Meski memiliki fundamental operasional yang kuat, Harry melihat NCKL tetap menghadapi sejumlah tantangan makroekonomi dan industri. Salah satunya adalah tekanan terhadap harga produk nikel yang dapat memengaruhi kinerja perseroan.

Kinerja NCKL pada kuartal III 2026 berpotensi menghadapi tekanan lebih besar seiring dengan koreksi harga Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat di pasar.

Penurunan harga tersebut terjadi di tengah peningkatan pasokan yang belum diimbangi dengan penguatan permintaan material baterai.

Di Tiongkok, harga nikel sulfat tercatat turun sekitar 13% sejak akhir kuartal II 2026 hingga 23 September 2026. Pada periode yang sama, harga MHP bahkan terkoreksi lebih dalam, yakni mencapai 17,3%.

"Risiko utama tetap berasal dari tekanan harga nikel dan produk intermediet akibat tingginya persediaan serta bertambahnya pasokan setelah persetujuan RKAB mulai kembali berjalan," papar Harry.

 

Pelonggaran kendala pasokan bijih nikel juga mulai tercermin pada kondisi pasar domestik. Salah satu indikatornya adalah premi saprolit di Indonesia yang mulai melandai pada akhir September 2026.

Meski demikian, Harry menilai saham NCKL masih menarik untuk dicermati, terutama bagi investor dengan horizon investasi jangka menengah. Kinerja operasional yang didukung peningkatan produksi dan posisi biaya yang kompetitif menjadi faktor yang dapat menopang prospek emiten.

Potensi kenaikan harga saham NCKL juga dinilai semakin terbuka apabila tekanan biaya mulai mereda dan arus kas perseroan kembali menunjukkan perbaikan.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Harry memberikan rekomendasi buy untuk saham NCKL dengan target harga sebesar Rp 1.300 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×