kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Vale Indonesia (INCO) Raih Pendapatan US$ 252,7 Juta pada Kuartal I-2026


Kamis, 30 April 2026 / 11:49 WIB
Vale Indonesia (INCO) Raih Pendapatan US$ 252,7 Juta pada Kuartal I-2026
ILUSTRASI. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengumumkan hasil produksi dan keuangan untuk tiga bulan pertama 2026. ?(Dok/INCO)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengumumkan hasil produksi dan keuangan untuk tiga bulan pertama 2026. Meskipun produksi dan pengiriman nikel matte lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, INCO berhasil mencapai kinerja keuangan yang kuat berkat dukungan harga jual yang lebih tinggi, manajemen biaya yang disiplin, dan peningkatan efisiensi operasional.

Pada kuartal I-2026, INCO mencatat produksi nikel matte sebesar 13.620 metrik ton, atau turun 20,13% quarter on quarter (qoq) dibandingkan dengan 17.052 metrik ton pada kuartal IV-2025 dan lebih rendah 20,01% yoy dari 17.027 metrik ton yang dicapai pada kuartal I-2025.

Hasil ini sepenuhnya sesuai dengan rencana INCO yang mencerminkan optimalisasi kegiatan pemeliharaan yang terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semester I-2026 serta dampak dari persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Baca Juga: Ada Penyesuaian RKAB, Central Omega (DKFT) Cetak Kinerja Positif di Kuartal I-2026

Sejalan dengan penyesuaian produksi yang direncanakan, pengiriman nikel matte menurun sebesar 25% secara kuartalan. Ke depan, INCO tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton dan berada pada posisi yang baik untuk memperoleh peningkatan dari harga nikel LME yang lebih tinggi.

Selain produksi nikel matte, tahun 2026 merupakan tahun penting dalam lintasan pertumbuhan INCO, mengingat perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan, yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa secara bersamaan.

Tonggak strategis ini ditunjukkan oleh volume produksi yang dapat ditingkatkan di setiap blok pertambangan dan penjualan pertama bijih nikel limonit dari area Pomalaa pada awal tahun 2026 yang menandai perluasan signifikan portofolio komersial INCO dan memperkuat diversifikasi pendapatan pada masa mendatang.

INCO pun memperoleh keuntungan dari membaiknya dinamika harga nikel dunia selama kuartal I-2026, lantaran perusahaan ini mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar US$ 14.213 per metrik ton yang mewakili peningkatan 15% dari US$ 12.308 per metrik ton pada kuartal IV-2025, sehingga menghasilkan total pendapatan sebesar US$ 252,7 juta pada kuartal I-2026. Hasil ini lebih tinggi 22,4% dibandingkan pendapatan perusahaan pada kuartal I-2025 yakni US$ 206,5 juta.

Yang perlu diperhatikan, tahun 2026 menandai tahun penuh pertama penjualan nikel matte INCO dengan tingkat pembayaran 82%, sehingga memberikan basis pendapatan yang lebih kuat dan visibilitas margin yang lebih baik.

Baca Juga: Penjualan dan Laba Mitra Adiperkasa (MAPI) Naik di Kuartal I-2026, Ini Pendorongnya

Untuk ke depannya, dengan harga nikel LME yang diperkirakan akan tetap berada pada tren kenaikan, INCO berada pada posisi yang baik untuk lebih meningkatkan nilai dari struktur komersialnya yang telah dioptimalkan.

Dari sisi biaya, biaya tunai per unit penjualan nikel matte pada kuartal I-2026 tetap kompetitif di US$ 10.382 per ton, atau sedikit lebih tinggi dari US$ 9.573 per ton pada kuartal IV-2025, terutama mencerminkan harga input komoditas yang lebih tinggi.

Untuk bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit INCO tetap stabil dengan Bahodopi di level US$ 21 per ton dan Pomalaa di level US$ 13 per ton, termasuk royalti dan logistik. Dalam waktu dekat, INCO mengharapkan optimalisasi biaya tunai akan didorong oleh volume penjualan yang lebih tinggi dari blok Pomalaa seiring dengan peningkatan skala operasi.

Peningkatan volume diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan menghasilkan skala ekonomi yang lebih besar, yang sebagian akan mengimbangi basis biaya yang secara struktural lebih tinggi di Bahodopi dan mendukung profil biaya keseluruhan yang lebih seimbang.

INCO pun mencatatkan momentum pendapatan yang kuat pada kuartal I-2026 dengan EBITDA meningkat 29% secara kuartalan menjadi US$ 80,1 juta dan laba bersih melonjak 85% secara kuartalan menjadi US$ 43,6 juta. Hal ini didukung oleh kenaikan harga dan peningkatan efisiensi yang berkelanjutan.

Dengan capaian pendapatan mencapai US$ 252,7 juta pada kuartal I-2026, fundamental pertumbuhan tetap kokoh. Ke depan, INCO mengharapkan kinerja EBITDA, pendapatan, dan laba yang lebih kuat, didorong oleh harga nikel LME yang lebih tinggi, peningkatan leverage operasional, dan perluasan margin seiring dengan peningkatan volume produksi.

Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, konsumsi bahan bakar INCO pada kuartal I-2026 menurun sesuai rencana. Hal ini sejalan dengan pembangunan kembali Furnace 3, sementara stok penyangga yang cukup memastikan operasi berjalan tanpa gangguan.

Didukung oleh pengadaan yang disiplin dan inisiatif efisiensi, harga rata-rata HSFO, diesel, dan batubara menurun, INCO mampu memperkuat optimalisasi biaya dan mendukung agenda pengurangan konsumsi dan emisi perusahaan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, pada 23 April 2026, INCO mencapai tonggak penting dengan penandatanganan Pinjaman Terkait Keberlanjutan atau Sustainability-Linked Loan (SLL). Transaksi ini memperkuat strategi keuangan berkelanjutan INCO melalui fasilitas pinjaman sindikasi terkait ESG senilai US$ 750 juta.

Baca Juga: IHSG Melorot Tajam, Menembus ke Bawah Level 7.000 pada Kamis (30/4) Siang

Perlu diperhatikan, ini menandai Pinjaman Terkait Keberlanjutan pertama di industri pertambangan di Asia Tenggara, sehingga memperkuat kepemimpinan INCO dalam menanamkan prinsip keberlanjutan ke dalam kerangka pembiayaannya.

Selama kuartal I-2026, INCO telah mengeluarkan sekitar US$ 139 juta belanja modal untuk mendukung aktivitas berkelanjutan dan proyek pertumbuhan strategis. Per 31 Maret 2026, kas dan setara kas INCO berada di angka US$ 220,1 juta, dibandingkan dengan US$ 376,4 juta per 31 Desember 2025.

INCO tetap berkomitmen pada alokasi modal yang bijaksana dan manajemen likuiditas yang disiplin untuk menjaga ketahanan keuangan sekaligus terus mendukung pertumbuhan jangka panjang.

CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, INCO terus menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan.

"Pada saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial kami melalui dimulainya penjualan limonit dari blok Pomalaa, yang menandai langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis kami ke depan," tandas dia dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×