Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis trading card makin marak di Indonesia. Tak hanya sebagai penunjang hobi, kartu-kartu bergambar karakter fiktif gim ini juga telah dianggap sebagai instrumen investasi bagi sejumlah kalangan kolektor.
Asal tahu saja, trading card merupakan kartu kecil yang diperjualbelikan untuk permainan strategi atau trading card game (TCG) seperti Pokémon, Yu-Gi-Oh!, Magic: The Gathering, dan Vanguard. Makin langka sebuah kartu, makin tinggi pula nilai ekonominya.
Surya, Player TCG sekaligus anggota Samarinda Pokémon Community (SPC), merupakan salah satu pemain sekaligus kolektor kartu Pokémon. Telah menjadi pemain selama sekitar 9 tahun, Surya kini memiliki dua binder penuh berisi kartu Pokémon serta tiga deck yang sering digunakan untuk bermain.
Baca Juga: Demam Pokémon Card, Pikachu Illustrator Jadi Aset Koleksi Bernilai Tinggi
Ia menyebut, tingkat kelangkaan menjadi faktor utama tingginya harga sebuah kartu. Kartu yang langka ini disebut juga chase card. Biasanya, cirinya ialah memiliki efek khusus ataupun ilustrasi langka.
"Harganya mahal karena hit-nya itu tipis untuk didapatkan. Misalnya punya 10 boks, dapat satu chase card juga sudah beruntung," jelas Surya saat dihubungi Kontan, Kamis (30/4/2026).
Selain faktor kelangkaan, harga kartu Pokémon juga dipengaruhi oleh faktor meta atau power dalam permainan. Kartu yang sedang kuat atau sering digunakan dalam deck kompetitif biasanya memiliki harga lebih tinggi.
Namun demikian, ia menjelaskan bahwa harga kartu bersifat fluktuatif karena adanya sistem rotasi dalam Pokémon TCG. Ketika sudah melewati masa rotasi, kartu tersebut tak lagi legal digunakan dalam kompetisi.
“Kalau sudah kena rotasi, kartunya tidak bisa dipakai di turnamen atau game, jadi biasanya harga ikut turun," jelasnya.
Surya menambahkan, harga kartu lama yang sudah tak diproduksi juga bisa terkerek. Misalnya, kartu yang dimilikinya, Snorlax Pokémon 151, dibeli dengan harga di kisaran Rp 50.000 saat rilis sekitar tiga tahun lalu. Kini, jika dijual, kartu tersebut katanya bisa dibanderol sekitar Rp 800.000.
Surya tak memungkiri, nilai investasi dari hobinya ini cukup jumbo. Namun, sebagai player, ia berharap masyarakat awam tak menggeluti dunia trading card dengan tujuan investasi semata.
"Memang, nilai investasinya itu ada banget. Tapi untuk yang baru mau terjun, buat fun aja dahulu. Karena jika semua orang tujuan koleksinya untuk investasi, itu akan merusak harga pasaran," tandasnya.
Artinya, mengoleksi kertas-kertas unik ini memang bisa menghasilkan cuan, tapi juga perlu mempertimbangkan risiko dan tujuannya.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Optimistis Raih Kinerja Keuangan Lebih Baik pada 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













