kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.649   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.687   67,00   1,01%
  • KOMPAS100 877   10,67   1,23%
  • LQ45 666   9,28   1,41%
  • ISSI 233   2,15   0,93%
  • IDX30 372   4,37   1,19%
  • IDXHIDIV20 458   3,69   0,81%
  • IDX80 100   1,25   1,27%
  • IDXV30 127   1,14   0,91%
  • IDXQ30 119   1,06   0,91%

Usai Merger, EXCL Genjot 5G tapi Dibayangi Tekanan Margin & Arus Kas Ini Saran UBS


Selasa, 08 September 2026 / 14:52 WIB
Usai Merger, EXCL Genjot 5G tapi Dibayangi Tekanan Margin & Arus Kas Ini Saran UBS
ILUSTRASI. XL perkuat layanan telekomunikasi XL Ultra 5G (Dok/XL)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju pemulihan kinerja PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) usai merger masih diwarnai berbagai tantangan operasional dan efisiensi.

Meskipun capaian pendapatan kuartal II-2026 mampu melampaui ekspektasi awal, tren pendapatan layanan nirkabel yang melambat serta tingginya alokasi belanja modal menjadi perhatian utama para analis.

Analis UBS Global Research Ivan Reynaldo Sutheja menyoroti dinamika pemulihan margin EBITDA EXCL yang diperkirakan berlangsung lebih lambat pasca integrasi.

Baca Juga: Gelar Private Placement, Raharja Energi Cepu (RATU) Kantongi Restu Pemegang Saham

Menurutnya, besaran kontribusi basis pelanggan dari merek yang lebih kecil sangat memengaruhi kecepatan perbaikan kinerja keuangan perseroan secara keseluruhan. 

"Margin EBITDA XLSmart telah membaik secara bertahap pasca merger, meskipun lambat. Bagi XLSmart, kualitas jaringan yang lebih baik serta pembersihan basis pelanggan dapat memperkuat pertumbuhan ARPU dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kendati kami memperkirakan pemulihan margin EBITDA-nya mungkin lebih lambat dibandingkan pemulihan IOH pasca integrasi," ungkap Ivan dalam risetnya, (25/8).  

Secara historis, Ivan menilai pola perbaikan margin EXCL memiliki dinamika berbeda dibandingkan dengan integrasi operator telekomunikasi lain di Indonesia.

Proporsi pelanggan Smartfren yang ditaksir sebesar 15% dari total pelanggan EXCL relatif jauh lebih kecil ketimbang kontribusi merek Tri sebesar 33% pada merger Indosat.

Kondisi tersebut membatasi ruang dorongan ARPU serta pemulihan margin EBITDA EXCL di tengah sengitnya persaingan industri. 

Di sisi lain, Analis J.P. Morgan Ranjan Sharma mencatatkan total pendapatan EXCL pada kuartal II-2026 mencapai Rp 12,20 triliun. Angka tersebut tumbuh 3% secara kuartalan dan melonjak 16% secara tahunan. 

Meski demikian, penopang utama pertumbuhan tersebut berasal dari pos pendapatan interkoneksi dan layanan telekomunikasi lainnya.

Pos pendapatan tersebut melesat hingga 85% YoY lantaran adanya pengerjaan proyek enterprise. 

Baca Juga: Mirae Asset Rambah Wealth Management, Perkuat Layanan Digital dan Advisory

Ranjan memberikan catatan kritis terhadap kinerja bisnis inti layanan nirkabel (wireless) perseroan. Ia menilai adanya potensi risiko penurunan pangsa pasar secara bertahap.

Hal itu terlihat dari pendapatan nirkabel EXCL yang terkoreksi 0,5% QoQ seiring penurunan ARPU sebesar 1% QoQ.

"Kinerja pendapatan utama EXCL pada kuartal II-2026 yang melampaui estimasi sebagian besar didorong oleh 'Interkoneksi dan Layanan Telko Lainnya' yang sifatnya cenderung fluktuatif. Tren pendapatan nirkabel lebih lemah dibandingkan dengan pesaing dan dapat mencerminkan kehilangan pangsa pasar yang telah kami soroti untuk EXCL," terang Ranjang dalam risetnya, (12/8).

Di sisi lain, target capex ditingkatkan menjadi Rp 20 triliun dari rencana awal sebesar Rp 15 triliun. Penambahan alokasi dana ini difokuskan untuk mempercepat penggelaran jaringan 5G.

Ekspansi tersebut memanfaatkan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang baru diperoleh perusahaan.

Dalam kurun lima tahun ke depan, UBS memperkirakan akumulasi kebutuhan capex 5G EXCL dapat mencapai Rp 15 triliun. 

Guna mengimbangi beban biaya operasional, EXCL berniat mengembalikan spektrum frekuensi 900 MHz kepada pemerintah pada akhir tahun ini. Langkah taktis ini diproyeksikan memberi efisiensi biaya penggunaan spektrum sebesar Rp 1,1 triliun per tahun mulai 2027. 

Namun, tingginya alokasi belanja modal diperkirakan tetap menekan arus kas bebas (FCF) perseroan hingga rentang 2027–2028.

Kondisi FCF yang terbatas tersebut membatasi ruang fleksibilitas EXCL dalam membagikan dividen kepada pemegang saham.

Ivan memproyeksikan perseroan baru mulai membagikan dividen pada 2028 berdasarkan perolehan laba bersih tahun berjalan 2027. 

Menilik kinerja operasional, total basis pelanggan EXCL berada di level 69 juta pada kuartal II-2026. Di samping itu, segmen Fixed Broadband (FBB) menunjukkan sinyal positif dengan membukukan penambahan bersih pelanggan untuk pertama kalinya sejak akhir 2024.  

Atas berbagai pertimbangan prospek tersebut, Ivan merekomendasikan neutral untuk saham EXCL dengan target harga Rp 2.910 per saham.

Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Kasih Bocoran Dividen, Ini Besaran yang Akan Dibagi

Sementara itu, Ranjan mempertahankan rekomendasi underweight untuk EXCL dengan target harga sebesar Rp 1.700 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×