Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek PT Lautan Luas Tbk (LTLS) diperkirakan masih positif dalam jangka menengah-panjang, salah satunya disokong oleh bisnis pengolahan air menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi emiten distributor dan produsen bahan kimia tersebut.
Diketahui, LTLS menargetkan kontribusi bisnis air terhadap pendapatan konsolidasi bisa menembus lebih dari 15% dalam jangka panjang.
Manajemen mengatakan, bisnis air saat ini memberikan kontribusi sekitar 12% terhadap total pendapatan konsolidasi perusahaan. Pada semester II 2026, kontribusi tersebut diperkirakan masih berada di kisaran 12%-15%.
Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Kasih Bocoran Dividen, Ini Besaran yang Akan Dibagi
Bisnis pengolahan air LTLS mencakup pengolahan air baku, air bersih, pengolahan limbah hingga air minum. Perusahaan juga mengembangkan layanan berbasis operasi dan pemeliharaan atau operation and maintenance (O&M).
Melalui model tersebut, LTLS tidak hanya menjual bahan kimia kepada pelanggan, tetapi menempatkan tim di lokasi pelanggan untuk mengelola proses pengolahan air. Perusahaan mengenakan biaya berdasarkan volume air yang diolah.
Sejumlah pelanggan yang menggunakan layanan tersebut antara lain Unilever, Astra, Petromidia dan Petrokimia Gresik. Model serupa juga dikembangkan untuk sektor perhotelan, termasuk memproduksi air minum langsung di lokasi pelanggan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pengembangan segmen ini menarik karena karena kebutuhan pengolahan air dan limbah bersifat relatif struktural, sementara LTLS juga memiliki basis pelanggan industri yang luas.
“Manajemen sendiri mengalokasikan bagian dari capex 2026 untuk pembangunan fasilitas baru bisnis water treatment chemicals,” ungkap Nafan kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).
Kata Nafan, dengan kontribusi kontribusi bisnis air yang saat ini sekitar 12% dan ditargetkan 15% dalam jangka panjang, kenaikan kontribusi tersebut berpotensi menjadi katalis bagi pertumbuhan pendapatan sekaligus meningkatkan recurring revenue LTLS, apabila ekspansi kapasitas diikuti dengan peningkatan utilisasi dan margin yang baik.
Namun, Nafan menekankan, investor tetap perlu memperhatikan risiko kenaikan capex dan leverage karena ekspansi membutuhkan modal.
Baca Juga: Usai Merger, EXCL Genjot 5G tapi Dibayangi Tekanan Margin & Arus Kas Ini Saran UBS
“Secara valuasi, LTLS juga relatif menarik dengan PBV sekitar 0,37x per 8 September 2026, sehingga ruang re-rating masih terbuka apabila pertumbuhan laba dan kontribusi bisnis air semakin terealisasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, LTLS juga mengembangkan solusi reverse osmosis (RO) dengan merek Pureve yang menyasar industri, hotel, restoran, kafe, perkantoran, fasilitas umum hingga residensial.
Di bisnis ritel, perusahaan mulai mengembangkan gerai isi ulang air minum dengan merek Murni. Saat ini terdapat 11 gerai di wilayah Jabodetabek dan jumlahnya ditargetkan meningkat menjadi 20 gerai pada tahun depan.
Selain pasar domestik, pengembangan bisnis air juga dilakukan di kawasan regional, terutama Vietnam dan Thailand.
Peluang tersebut menjadi semakin penting bagi LTLS seiring kinerja perusahaan yang tumbuh positif. Menurut Nafan, dari sisi fundamental momentum LTLS juga cukup solid.
Pada semester I-2026, pendapatan mencapai sekitar Rp5,11 triliun atau tumbuh 21,2% YoY, sementara laba bersih naik 56,4% menjadi Rp 124,5 miliar. Margin laba kotor juga meningkat menjadi 19,19% dari 15,70% pada tahun 2025, menunjukkan adanya perbaikan kualitas profitabilitas.
Manajemen pun optimistis momentum tersebut berlanjut pada semester II-2026 seiring stabilnya pasar dan kuatnya permintaan pelanggan.
“Saya melihat LTLS memiliki prospek yang positif secara fundamental untuk jangka menengah-panjang, dengan bisnis pengolahan air sebagai salah satu growth driver utama,” jelasnya.
Meski demikian, Nafan memperingatkan kenaikan harga saham kemungkinan tetap membutuhkan konfirmasi berupa pertumbuhan laba yang berkelanjutan dan peningkatan kontribusi bisnis air.
Maka, Nafan memberikan rekomendasi untuk sell on strength saham LTLS, karena RSI sudah extremely overbought.
Baca Juga: PLN IP Garap Monetisasi Aset Karbon, Dorong Nilai Ekonomi dari PLTP Gunung Salak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














