kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.337   71,00   0,41%
  • IDX 7.084   11,34   0,16%
  • KOMPAS100 955   0,72   0,08%
  • LQ45 683   0,40   0,06%
  • ISSI 255   -0,18   -0,07%
  • IDX30 379   0,36   0,10%
  • IDXHIDIV20 464   0,71   0,15%
  • IDX80 107   0,08   0,08%
  • IDXV30 136   0,89   0,66%
  • IDXQ30 121   0,01   0,01%

UEA Keluar Dari OPEC, Harga Minyak Mentah WTI Sentuh Level US$ 100 per Barel


Rabu, 29 April 2026 / 14:29 WIB
UEA Keluar Dari OPEC, Harga Minyak Mentah WTI Sentuh Level US$ 100 per Barel
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Pavel Mikheyev)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah WTI kembali menguat seiring dengan pengumuman UEA yang keluar dari keanggotaan OPEC dan OPEC+. Mengutip Trading Economics Rabu (29/4/2026) pukul 14.05 WIB, harga minyak mentah WTI berada di level US$ 100,35 per barel, naik 0,42% secara harian dan menguat 7,30% dalam sepekan. 

Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwy Assegaf mengatakan, keputusan UEA yang keluar OPEC menjadi katalis utama lonjakan harga minyak global.

Keputusan ini muncul di tengah kebuntuan konflik Iran yang terus mengganggu pasokan energi dunia. Harga minyak langsung naik, minyak mentah WTI menembus US$ 100 per barel.

Baca Juga: Bukalapak (BUKA) Derita Rugi Bersih pada Kuartal I-2025, Ini Penyebabnya

Keputusan UEA keluar OPEC memberi tekanan besar pada stabilitas kartel, terutama bagi Arab Saudi. UEA sebagai produsen terbesar ketiga dinilai memiliki kapasitas produksi jauh di atas kuota. “Kondisi ini menunjukkan rapuhnya koordinasi produksi saat krisis,” ujar Alwy dalam risetnya pada Rabu (29/4/2026). 

Selain itu, Presiden AS Donald Trump menilai proposal terbaru Iran belum memuaskan. Situasi ini membuat distribusi energi melalui Selat Hormuz masih terganggu. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan langsung mendorong harga naik.

“Kenaikan harga energi meningkatkan ekspektasi inflasi,” kata Alwy. 

Selama harga mampu bertahan di atas US$ 98,08 per barel, Alwy menilai potensi kenaikan harga masih terbuka untuk menguji resistance di level US$ 101,78 per barel, kemudian berlanjut ke US$ 103,72 per barel hingga US$ 105,56 per barel. Namun jika harga kembali turun dan menembus di bawah US$ 98,08 per barel, maka koreksi lebih dalam berpotensi terjadi dengan target ke US$ 94,52 per barel dan US$ 92,26 per barel.

Baca Juga: Pendapatan dan Laba Bersih IMPC Kompak Tumbuh Double Digit di Kuartal I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×