kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.746   27,00   0,15%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Rupiah dan Yield SBN Membaik, Peluang Penguatan IHSG Kian Terbuka


Selasa, 16 Juni 2026 / 13:28 WIB
Rupiah dan Yield SBN Membaik, Peluang Penguatan IHSG Kian Terbuka
ILUSTRASI. Kemenkeu Jadwalkan Penawaran 8 Seri Baru SBN Ritel di 2025 (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir. Reli pada perdagangan awal pekan ini ditopang sejumlah sentimen positif terutama meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah.

Penguatan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah rebound yang terjadi saat ini merupakan awal dari perbaikan sentimen atau sekadar technical rebound setelah penurunan yang cukup dalam.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG melesat 4,12% atau bertambah 247 poin ke level 6.254,96 pada penutupan perdagangan, Senin (15/6/2026). Sepanjang perdagangan kemarin IHSG bergerak di zona hijau dengan level terendah 6.118 dan level tertinggi 6.345.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham INDY, BBCA, dan DSSA untuk Rabu (17/6)

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound.

Namun demikian, menurutnya pergerakan tersebut bukan tanpa dukungan perkembangan fundamental yang lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Rebound tersebut bukan tanpa dasar karena mulai terlihat tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi. Meski demikian, arus modal asing masih cenderung selektif,” ujar Rully dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).

Tercatat nilai tukar rupiah mulai mengalami penguatan setelah sempat melemah hingga tembus ke atas level Rp 18.000 beberapa waktu lalu. Di awal pekan ini, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.709 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (15/6/2026), menguat 0,85% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.860 per dolar AS.

Sejalan, yield obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga mengalami penurunan, menjadi ke level 6,9% pada Senin (15/6) dari sebelumnya yang pernah menembus 7,4% pada sepekan lalu, Rabu (10/6).

Kondisi pasar keuangan domestik yang sempat tertekan akibat nilai tukar rupiah juga memberikan dampak secara langsung terhadap kenaikan imbal hasil SBN, serta meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan risk premium Indonesia yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham.

Dengan demikian, menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.

Baca Juga: Xolare RCR Energy (SOLA) Bidik Pendapatan Rp 412,57 Miliar pada 2026

“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,4% menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” jelasnya.

Ke depan, pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.

Meskipun tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×