CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Tokocrypto Menilai Pasar Kripto Indonesia Masih Underrated, Ini Alasannya


Rabu, 09 September 2026 / 19:02 WIB
Tokocrypto Menilai Pasar Kripto Indonesia Masih Underrated, Ini Alasannya
ILUSTRASI. CEO Toko Crypto Calvin Kizana (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah potensi pemulihan harga Bitcoin ke atas US$ 80.000 yang masih diwarnai kehati-hatian pasar global terhadap sentimen makro seperti harga minyak, yield AS, dan kebijakan The Fed, Tokocrypto menyoroti sisi lain dari pasar kripto Indonesia.

CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengungkapkan, pasar kripto domestik bukan soal pergerakan harga jangka pendek, melainkan soal skala dan kematangannya yang menurutnya masih belum mendapat pengakuan setara di kancah global.

"Dari perspektif saya, Indonesia masih menjadi salah satu pasar yang underrated, potensinya dipandang sebelah mata," ujar Calvin dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: IHSG Masih Berpeluang Menguat Bisa Tembus 7.200 hingga Akhir 2026

Klaim ini didukung data global. Dalam Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari 151 negara untuk tingkat adopsi kripto grassroots mengungguli negara-negara yang justru lebih dikenal sebagai hub kripto regional, seperti Singapura, yang tidak masuk 10 besar dalam indeks yang sama.

Di dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta pada Juli 2026, dengan nilai transaksi aset kripto sebesar Rp 20,52 triliun, dengan skala yang ditopang oleh basis ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mendekati US$100 miliar pada 2025 (e-Conomy SEA 2025, Google-Temasek-Bain & Company).

“Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi," tegas Calvin.

Menurut Calvin, Indonesia kerap luput dari sorotan karena dua asumsi keliru yang sering dipakai pelaku industri global. Pertama, anggapan bahwa Asia Tenggara bisa didekati dengan satu strategi yang sama untuk semua negara - padahal regulasi, perilaku pembayaran, budaya, hingga ekspektasi konsumen di tiap negara sangat berbeda.

Kedua, keyakinan bahwa modal besar bisa menggantikan pemahaman terhadap pasar lokal, termasuk mengandalkan strategi influencer marketing agresif untuk mendulang pengguna secara cepat.

Baca Juga: Tren Penjualan SR025 Positif pada Pekan Terakhir Penawaran

Menurut Calvin, Indonesia sangat berbeda dari Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan India. Regulasinya berbeda, perilaku pengguna dan pembayarannya berbeda, budayanya berbeda, ekspektasi konsumennya pun berbeda.

Karena itu, perkembangan pasar kripto Indonesia tidak lagi cukup dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna. Tahap berikutnya adalah memperdalam ekosistem melalui partisipasi institusional yang lebih kuat, integrasi dengan ekosistem keuangan, serta pengembangan utilitas aset kripto.

Perubahan fokus ini juga menuntut pendekatan yang berbeda dari pelaku industri yang ingin masuk ke pasar Indonesia.

Calvin menyebut salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan proyek dengan pendanaan besar adalah meyakini bahwa modal bisa menggantikan pemahaman terhadap pasar lokal, termasuk mengandalkan strategi influencer marketing secara agresif untuk mendulang pengguna dengan cepat. Padahal, kepercayaan justru dibangun melalui fondasi yang lebih mendasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×