Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar kripto dinilai masih menjanjikan hingga akhir 2026 meski sentimen memanaskan konflik geopolitik di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak mentah global membayangi.
Di tengah meningkatnya risiko inflasi dan ketidakpastian tersebut, Bitcoin justru diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan.
Melansir Coin Market Cap pada Selasa (21/7/2026) pukul 17.32 WIB, harga Botcoin (BTC) berada di level US$ 66.347 atau meningkat 6,08% sepekan dan 3,28% dalam sebulan terakhir.
Analis Reku, Andri Fauzan mengatakan, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan fase konsolidasi yang sehat setelah sempat terkoreksi pada awal 2026.
Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Kembali Menguat pada Perdagangan Rabu (22/7), Cek Sentimennya
Menurut Andri, Bitcoin telah rebound ke kisaran US$ 65.000 - US$ 65.900 dan mencetak level tertinggi dalam 30 hari terakhir. Secara teknikal, pergerakan tersebut membentuk pola ascending triangle disertai higher lows serta mampu bertahan di atas 50-day moving average di sekitar US$ 65.400.
“Sinyal kuat bahwa cycle low mungkin sudah terbentuk di area US$ 59.000 - US$ 64.800,” ungkap Andri kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).
Ia pun menilai kenaikan harga minyak justru memperkuat narasi Bitcoin sebagai digital gold. Menurutnya, apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut hingga mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, harga Brent berpotensi naik hingga US$ 120 per barel. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan tekanan inflasi global dan mendorong investor mencari aset alternatif.
Sehingga, Andri optimistis, harga Bitcoin mampu mencapai kisaran US$ 80.000 hingga US$ 100.000 pada akhir 2026.
Tiga faktor utama yang menopang proyeksi ini adalah arus masuk dana ETF Bitcoin yang terus meningkat, adopsi dari institusi keuangan besar yang semakin meluas, serta level 200-day moving average di sekitar US$ 71.000 juga berpotensi menjadi support kuat jika harga berhasil reclaim dan flip ke atas.
Di luar Bitcoin, Andri melihat sejumlah altcoin juga memiliki prospek yang menarik, terutama Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP, serta token bertema Real World Assets (RWA) dan perpetual decentralized exchange (Perp DEX) seperti ONDO dan HYPE.
Baca Juga: Fajar Surya (FASW) Berbalik Cetak Laba Rp 87,66 Miliar per Juni 2026
Menurutnya, Ethereum dan Solana masih menjadi blockchain Layer-1 utama yang didukung ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang matang serta kapasitas transaksi yang tinggi sehingga tetap menarik bagi investor institusi.
Sementara itu, XRP dan XLM dinilai memiliki peluang dari meningkatnya kebutuhan sistem pembayaran lintas negara oleh institusi keuangan.
Adapun ONDO dan HYPE diperkirakan mendapat sentimen positif dari berkembangnya tren tokenisasi aset, termasuk dimulainya uji coba produksi tokenisasi saham Russell 1000 oleh DTCC pada Juli 2026 serta meningkatnya volume transaksi produk Ondo Perps.
Bagi investor ritel, Andri menyarankan agar tetap mengedepankan strategi investasi bertahap (dollar-cost averaging atau DCA) dibandingkan mengejar kenaikan harga jangka pendek.
Ia merekomendasikan, komposisi portofolio sekitar 60% pada Bitcoin dan Ethereum, 20% pada altcoin pilihan seperti Ethereum, Solana, XRP, ONDO, dan HYPE, serta 20% pada stablecoin. Namun, investasi sebaiknya menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk aset berisiko.
“Fokus jangka panjang pada fundamental dan manajemen risiko akan jauh lebih unggul daripada mengejar hype di kondisi seperti sekarang,” pungkas Andri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
