kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.694.000   -13.000   -0,76%
  • USD/IDR 16.401   5,00   0,03%
  • IDX 6.606   19,09   0,29%
  • KOMPAS100 964   -2,78   -0,29%
  • LQ45 747   -0,24   -0,03%
  • ISSI 206   0,68   0,33%
  • IDX30 388   0,44   0,11%
  • IDXHIDIV20 470   1,92   0,41%
  • IDX80 109   -0,32   -0,29%
  • IDXV30 114   -1,22   -1,06%
  • IDXQ30 127   0,06   0,05%

Tarif Impor di Depan Mata, Harga Tembaga AS Capai Level Tertinggi


Rabu, 26 Februari 2025 / 21:51 WIB
Tarif Impor di Depan Mata, Harga Tembaga AS Capai Level Tertinggi
ILUSTRASI. Harga tembaga di Amerika Serikat (AS) melonjak pada Rabu (26/2) setelah Presiden Donald Trump semakin dekat untuk menerapkan tarif impor. REUTERS/Juan Carlos Ulate/File Photo


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga tembaga di Amerika Serikat (AS) melonjak pada Rabu (26/2) setelah Presiden Donald Trump semakin dekat untuk menerapkan tarif impor.

Sementara itu, pemadaman listrik di Chili, produsen tembaga terbesar dunia, turut mendukung kenaikan harga di pasar global.

Kontrak tembaga berjangka paling aktif untuk pengiriman Mei di bursa Comex AS naik 3,1% menjadi US$4,67 per pon, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 8,5 bulan pada 13 Februari.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Menjauh dari Rekor Puncak, Investor Profit Taking

Kenaikan ini melampaui pergerakan harga tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME), yang hanya naik 1,1% ke US$9.506 per ton dalam perdagangan resmi.

"Premi harga tembaga AS atas LME mencerminkan tekanan yang harus dihadapi konsumen AS jika tarif benar-benar diterapkan," ujar Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, Kopenhagen.

Premi tembaga Comex atas LME melonjak menjadi US$801 per ton dari US$580 sehari sebelumnya, meskipun masih di bawah puncak US$1.153 pada 13 Februari.

Trump sebelumnya telah menyatakan rencananya untuk menerapkan tarif pada impor tembaga.

Baca Juga: Menakar Prospek Emiten Logam Industri di Tengah Kisruh Kebijakan Tarif Trump

Pada Selasa (25/2), ia resmi memerintahkan penyelidikan terkait bea masuk terhadap logam yang menjadi komponen penting dalam kendaraan listrik, perangkat militer, jaringan listrik, serta berbagai barang konsumsi lainnya.

"AS tidak memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pemurnian dalam waktu dekat, sehingga kebijakan ini bisa menjadi bumerang," kata Hansen.

"Terlebih lagi, sebagian besar tembaga yang diimpor berasal dari negara yang relatif bersahabat seperti Chili."

Secara fundamental, pasar tembaga saat ini masih cukup lemah dengan peningkatan stok, tetapi pemadaman listrik di Chili turut memberikan dukungan terhadap harga, tambahnya.

Investor telah mengajukan permintaan untuk menarik 85.400 ton tembaga dari gudang LME dalam sepekan terakhir, dan beberapa analis memperkirakan pengiriman tersebut akan dikirim ke AS.

Baca Juga: Harga Tembaga Dekati Level Tertinggi 3 Bulan akibat Penundaan Tarif Resiprokal Trump

Sementara itu, stok tembaga Comex telah lebih dari dua kali lipat dalam lima bulan terakhir, mencapai 96.760 ton.

Pemadaman listrik besar-besaran di Chili pada Selasa membuat ibu kota Santiago gelap gulita, tetapi jaringan listrik dan tambang tembaga utama mulai kembali beroperasi pada Rabu.

Di pasar logam lainnya, harga aluminium di LME naik 0,4% menjadi US$2.650 per ton, seng bertambah 0,6% menjadi US$2.828, nikel naik 1,2% menjadi US$15.525, timbal naik 0,6% menjadi US$2.004, dan timah naik 0,5% menjadi US$32.925 per ton.

Selanjutnya: Presiden Prabowo Resmikan BSI sebagai Bank Emas Pertama di Indonesia

Menarik Dibaca: Prakiraan Cuaca Jakarta Besok (27/2), Cerah Hingga Hujan Petir

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Finance for Non Finance Entering the Realm of Private Equity

[X]
×