Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) berpotensi ditopang oleh ekspansi segmen packaging seiring mulai beroperasinya pabrik baru di Karawang (IKK) sejak April 2026.
Meski demikian, pertumbuhan laba bersih perseroan dalam jangka pendek diperkirakan masih tertahan oleh tingginya beban awal operasional (ramp up costs) fasilitas tersebut.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menjelaskan bahwa kontribusi pabrik Karawang sudah mulai tercermin pada kuartal kedua 2026.
Baca Juga: Pabrik Baru di Karawang Dorong Prospek Kinerja dan Saham Indah Kiat (INKP)
Pada periode tersebut, pendapatan segmen packaging melonjak 38,1% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi US$ 316 juta, sehingga mengerek pendapatan packaging sepanjang enam bulan pertama (6M26) naik 27,6% YoY menjadi US$ 566 juta.
"Selain itu, harga pulp BHKP China masih relatif kuat, rata-rata US$ 595 per ton pada 6M26 atau naik 5,6% YoY, sehingga dapat menjadi penopang pendapatan pulp meski volumenya cenderung lebih rendah," ujar Azis kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).
Secara keseluruhan, kinerja INKP diproyeksikan tetap bertumbuh pada 2026, terutama didorong oleh komersialisasi IKK pada semester kedua. Pada 6M26, laba inti (core profit) INKP tercatat tumbuh 25,9% YoY mencapai US$ 175 juta.
Namun, Azis mengingatkan adanya risiko perlambatan laba pada 2H26 karena kontribusi IKK belum sepenuhnya optimal untuk menutupi beban biaya awal. Fasilitas Karawang ini dirancang menjadi motor pertumbuhan utama INKP dalam jangka panjang melalui segmen kemasan.
Manajemen INKP menargetkan tingkat utilisasi pabrik berkisar 60% pada 2026, sedangkan Kiwoom Sekuritas memasang estimasi yang lebih konservatif di kisaran 50%.
Dengan tingkat utilisasi tersebut, IKK diperkirakan masih membukukan EBITDA loss sekitar US$ 34 juta pada 2026, sebelum berbalik mencetak EBITDA profit sekitar US$ 110 juta pada 2027.
Seiring peningkatan utilisasi, porsi pendapatan packaging terhadap total omzet diproyeksikan melesat dari 27,9% pada 2025 menjadi 49,9% pada 2028, sementara kontribusinya terhadap laba kotor naik dari 13,0% menjadi 34,1%.
Kendati berprospek cerah, Azis menekankan bahwa proses penyesuaian operasional menjadi tantangan utama yang menekan margin jangka pendek.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham BBRI, DEWA, JPFA, TPIA, BIPI, INKP untuk Senin (14/9/2026)
"Pada 2Q26, margin packaging turun menjadi 5,1% dari 14,8% pada kuartal sebelumnya akibat ramp up costs. Selain itu, margin pulp dan graphic paper juga turun menjadi 26,3%, menunjukkan operating leverage yang masih terbatas," ungkapnya.
Menurutnya, pergerakan harga pulp global dan laju percepatan utilisasi IKK akan menjadi kunci penentu seberapa cepat investasi bernilai besar ini berbalik menghasilkan profitabilitas yang optimal.
Analis Bahana Sekuritas Arvin Lienardi mencatat bahwa pembangunan pabrik Karawang berkapasitas 2,4 juta ton sebelumnya telah menyerap belanja modal (capex) besar hingga US$ 2,5 miliar pada periode 2024–2025.
Namun, seiring mulainya fase komersialisasi, siklus capex berat tersebut kini mulai berakhir, yang berpotensi membawa arus kas bebas (free cash flow) INKP kembali positif dan membuka ruang penurunan rasio utang (deleveraging).
Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas memproyeksikan tambahan kapasitas ini pada akhirnya akan memperkuat posisi pasar perseroan dengan mendongkrak total kapasitas produksi sebesar 34,2% YoY menjadi 9,4 juta metrik ton per tahun.
Dengan mempertimbangkan kombinasi katalis pertumbuhan jangka panjang dan tekanan margin jangka pendek tersebut, Azis merekomendasikan trading buy untuk saham INKP dengan target harga Rp 9.500 per saham.
Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (3 September 2026), INKP dan CUAN Disorot
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














