kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Tak hanya virus corona, melimpahnya pasokan juga memicu koreksi harga minyak


Selasa, 28 Januari 2020 / 20:57 WIB
Tak hanya virus corona, melimpahnya pasokan juga memicu koreksi harga minyak
ILUSTRASI. Ilustrasi harga minyak

Reporter: Muhammad Kusuma | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia terus tertekan oleh sentimen negatif global. Selasa (28/1) pukul 20.10 WIB, harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2010 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 53,43 per barel, naik 0,54%  dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 53,14 per barel. Namun, bila dihitung selama sepekan, harga minyak masih turun 8,47% dari level US$ 58,38 per barel. 

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, penurunan harga minyak dunia tidak hanya terpengaruh oleh wabah virus corona. Menurutnya, pasokan minyak dunia saat ini sedang melimpah membuat harga minyak tertekan.

Baca Juga: Virus corona menekan harga minyak, berikut prediksi analis

“Pasokan masih banyak dibandingkan permintaan. Kebijakan OPEC untuk memangkas produksi minyak bumi masih kurang,” jelasnya pada kontan.co.id Selasa (28/1).

Sebelumnya negara-negara yang tergabung dalam OPEC sepakat untuk memangkas produksi minyak hingga 1,7 juta barel per hari agar harga minyak kembali stabil. Namun, pemangkasan yang dilakukan oleh OPEC justru menjadi sia-sia. Pasalnya, kekosongan stok minyak mentah tersebut diisi oleh Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah negeri Paman Sam naik 1,6 juta barel per hari dalam sepekan yang berakhir 17 Januari menjadi 433 juta barel.

Selain itu, dengan adanya wabah virus corona, sektor transportasi dan energi yang notabene memerlukan minyak mengurangi permintaan terhadap minyak sendiri.

Permintaan minyak juga menurun karena produk minyak memiliki alternatif lain yang lebih murah seperti batubara, gas alam, biodiesel, dan listrik. Sehingga, jika harga minyak tinggi, energi alternatif lain akan menjadi pilihan.

Dari sisi teknikal, Analis PT Finex Berjangka Nanang Wahyudin memberikan sedikit gambaran analisa teknikal potensi penurunan harga minyak meskipun cenderung terbatas.

Dia menjelaskan, dalam enam hari berturut-turut harga minyak tertekan karena beberapa indikator teknikal menunjukkan oversold seperti stochastic oscillator dan harga yang mendekati area support terdekat US$ 51.56. Harga minyak sudah berada jauh di bawah moving average 13, 26 dan 100.

Baca Juga: Harga minyak mentah mulai rebound, minyak WTI ke US$ 53,22 dan Brent ke US$ 58,58

“Ini menandakan cukup berat untuk menahan laju penurunan. Untuk jangka pendek atau minggu ini ruang koreksi akan menguji psikologi support US$ 50,78 per barel,” jelasnya.

Wahyu memberikan rekomendasi buy on weakness dengan rentang harga minyak di US$ 50 per barel hingga US$ 60 per barel. Sedangkan, Nanang merekomendasikan untuk sell dengan rentang harga US$ 46 per barel hingga US$ 65 per barel





Close [X]
×