kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Harga minyak mentah mulai rebound, minyak WTI ke US$ 53,22 dan Brent ke US$ 58,58


Selasa, 28 Januari 2020 / 14:51 WIB
Harga minyak mentah mulai rebound, minyak WTI ke US$ 53,22 dan Brent ke US$ 58,58
ILUSTRASI. Harga minyak mulai rebound setelah menyentuh level terendah sejak November 2019

Sumber: Bloomberg | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mulai berbalik arah. Selasa (28/1) pukul 14.30 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Maret 2020 di New York Mercantile Exchange menguat 0,15% ke US$ 53,22 per barel. 

Sementara harga minyak jenis Brent stabil di US$ 58,58 per barel. Posisi ini sama seperti penutupan hari sebelumnya. 

Sebelumnya, posisi minyak terdesak oleh penyebaran virus corona yang sudah mencapai 16 negara. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak global.

Sejumlah negara pun sudah mengeluarkan travel advisories ataupun pembatasan perjalanan ke China yang diprediksi bakal berdampak pada pertumbuhan ekonomi dari Negeri Tirai Bambu. 

Baca Juga: Harga CPO langsung ambruk 5% selepas libur Tahun Baru Imlek

Selain itu, berkurangnya jumlah penerbangan dari dan menuju China juga bakal mengurangi permintaan minyak mentah dan produk turunannya. Padahal di saat yang sama, sedang terjadi banjir pasokan.

Mengutip Bloomberg, Jeffrey Halley, analis senior OANDA memprediksi harga minyak WTI dapat anjlok ke kisaran US$ 47 hingga US$ 50 per barel. 

Sementara untuk minyak Brent bakal bergerak di level US$ 55 per barel. Menurut Jeffrey, seberapa jauh pelemahan harga minyak tergantung pada penyelesaian virus corona. 

Jika harga minyak Brent tembus ke bawah US$ 55 per barel, bukan tidak mungkin OPEC+ akan melakukan pertemuan guna menyelamatkan harga emas hitam ini. 

Sementara analis minyak Barclays Capital Ampreet Singh mengatakan, jika penerbangan di China turun pada kuartal pertama ini maka permintaan minyak akan berkurang setidaknya 300.000 barel per hari jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 




TERBARU

Close [X]
×