kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   25.000   0,96%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Suku Bunga Global Tinggi, Begini Prospek Saham AS dan Kripto hingga Akhir 2026


Jumat, 18 September 2026 / 17:38 WIB
Suku Bunga Global Tinggi, Begini Prospek Saham AS dan Kripto hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Altcoin crypto (Jakub Porzycki/NurPhoto via REUTERS)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren suku bunga global yang tinggi masih menjadi perhatian utama para pemodal dalam menyusun alokasi portofolio, tak terkecuali pada instrumen aset digital dan pasar saham di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Coin Market Cap per 18 September 2026 pukul 17:20 WIB, Bitcoin (BTC) berada di level US$78.110,38 atau naik 2,31% dalam 24 jam dengan kapitalisasi pasar US$1,56 triliun dan volume transaksi US$27,22 miliar, sedangkan Ethereum (ETH) menguat 3,23% ke posisi US$2.512,56 dengan kapitalisasi pasar US$306,68 miliar dan volume transaksi US$14,21 miliar.

Kenaikan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps ke level 3,75%–4,00% pada dasarnya menjadi penahan (headwind) bagi aset berisiko. Pasca pengumuman FOMC pada 16 September, indeks Dow Jones terkoreksi sekitar 600 poin dan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun kembali menyentuh 5%, level tertinggi sejak 2007.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Kembali Tertekan Pekan Depan, Ini Sentimennya

Di Indonesia, BI Rate berada di posisi 5,75% atau di atas FFR, sehingga instrumen rupiah secara nominal masih menawarkan bunga lebih tinggi. Meski demikian, investasi offshore tetap relevan bukan demi berburu bunga semata, melainkan sebagai langkah diversifikasi mata uang dan sarana mengakses sektor yang belum tersedia di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Nilai tukar rupiah melorot dari Rp 16.720 pada awal Januari 2026 ke level Rp 17.748 per dolar AS per 18 September, atau melemah sekitar 6% year to date (YtD). Di sisi lain, indeks S&P 500 tumbuh 10,6% hingga 16 September.

Kombinasi kenaikan indeks dan pelemahan rupiah ini menghasilkan total imbal hasil (return) sekitar 17% dalam rupiah, dengan porsi sekitar 40% disokong oleh pergerakan kurs.

Analis Reku Andri Fauzan memaparkan bahwa pemodal yang mengincar imbal hasil dari instrumen berbunga tinggi dapat mencermati aset berbasis dolar AS seperti US Treasury, T-bills, atau bond ETF.

Saat ini, yield US Treasury tenor 2 tahun mencapai 4,73%, 10 tahun di kisaran 5%, dan 30 tahun sebesar 5,34%.

"Kalau lewat pasar saham AS, karakter yang perlu dicermati di rezim bunga tinggi adalah perusahaan dengan pricing power, arus kas kuat, dan utang rendah," kata Andri kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Ia menambahkan bahwa ETF indeks broad-based menjadi opsi yang lebih realistis bagi investor yang menghindari strategi stock picking. Terkait saluran investasi, pemodal dapat memilih antara transaksi langsung via broker luar negeri dan platform lokal berizin.

Broker asing menawarkan cakupan produk yang luas, namun memiliki potensi kena estate tax AS untuk aset berdenominasi USD, situs di atas USD 60.000, sedangkan platform lokal memberi kemudahan akses onboarding KTP, top-up rupiah, serta pengawasan regulator domestik.

Di pasar kripto sendiri, pergerakan Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) turut dipengaruhi oleh arah pengetatan moneter The Fed, pergerakan yield obligasi, arus dana ETF spot, dan data tenaga kerja AS.

Strategi defensif melalui akumulasi bertahap (dollar cost averaging) di level support dan pembatasan penggunaan leverage menjadi pendekatan ideal saat ini.

Prospek pemulihan harga aset digital diperkirakan masih terbuka hingga akhir 2026, meski dibayangi oleh kebijakan moneter global yang ketat.

"Base case saya untuk Bitcoin masih di kisaran US$110.000, dengan skenario koreksi ke US$70.000–US$80.000 jika Fed lebih hawkish dan skenario optimis di atas US$130.000," ujar Andri.

Sementara itu, proyeksi harga Ethereum sampai akhir 2026 diperkirakan berada pada rentang US$3.000–US$3.800 per ETH.

Baca Juga: Indah Prakasa Sentosa (INPS) Ajukan Private Placement untuk Perbaiki Keuangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×