Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja emiten properti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan prapenjualan (pre-sales) CTRA pada semester I 2026 mengonfirmasi tekanan terhadap sektor properti akibat tingginya suku bunga.
"Penurunan pre-sales mengonfirmasi thesis sektor properti. BI Rate 5,75% yang ditahan tiga bulan berturut-turut menekan demand KPR yang menjadi tulang punggung CTRA," ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (27/8/2026).
Sebagai informasi, pre-sales CTRA pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp 4,7 triliun, turun 18% secara tahunan (YoY).
Baca Juga: Penawaran Sudah Berjalan Sepekan, SR025 Tenor 3 Tahun Lebih Diminati Investor
Sejalan dengan itu, penjualan dan pendapatan usaha tercatat Rp 5,19 triliun di akhir Juni 2026. Ini turun 11,69% secara tahunan dari Rp 5,88 triliun periode sama tahun lalu. Pun laba bersih dibukukan Rp 1,09 triliun di akhir semester I 2026, turun 11,19% YoY.
Menurut Wafi, CTRA memiliki ketergantungan terhadap KPR yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah pengembang lain. Ia mencontohkan, CTRA relatif lebih bergantung pada penjualan residensial dibandingkan pengembang seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang memiliki kontribusi recurring income lebih besar.
Di sisi lain, sikap CTRA yang selektif dalam melakukan ekspansi pusat perbelanjaan (mal) dinilai sebagai langkah yang prudent. Namun, strategi tersebut membuat CTRA belum memiliki penyangga pendapatan berulang yang cukup besar untuk mengompensasi pelemahan bisnis residensial.
"Sikap selektif ekspansi mal adalah prudent tapi berarti tidak punya buffer recurring income yang bisa offset weakness residential. Maka, prospek akhir tahun negative-to-flat kecuali ada relief dari sisi rate," jelas Wafi.
Di sisi lain, Analis UBS Sekuritas Indonesia Igor Putra mencatat, CTRA bakal meluncurkan proyek baru pada kuartal II 2026, dan Juli berpotensi menjadi indikasi adanya kenaikan target prapenjualan (presales) CTRA untuk 2026, yang saat ini ditargetkan tumbuh relatif datar secara tahunan.
Baca Juga: Nilai Transaksi Aset Kripto Tembus Rp 20,52 Triliun pada Juli 2026
Beberapa proyek seperti Citra Homes Halim, Losari Makassar, dan CitraGarden Forestine telah mencatat tingkat penyerapan sebesar 70%-84%. CTRA menyampaikan bahwa dua proyek pertama mencatat hasil yang melampaui ekspektasi. Namun, perseroan tetap mempertahankan target presales karena mempertimbangkan kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi makro.
"Kami menilai, apabila tingkat penyerapan yang kuat tersebut dapat dipertahankan, CTRA berpotensi menaikkan target presales 2026 Dengan mempertimbangkan posisi neraca dan arus kas CTRA yang kuat, kami memperkirakan proses serah terima proyek Citra Homes Halim akan berlangsung pada akhir 2026," ujar Igor dalam riset 31 Juli 2026.
Tak sampai situ saja, Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim mengatakan, bisnis kesehatan terus mendorong pendapatan berulang CTRA.
Dicatatnya pendapatan berulang tumbuh 5% YoY pada 2026, terutama didorong oleh pertumbuhan kuat pendapatan bisnis kesehatan yang mencapai 31 % YoY. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh rumah sakit CTRA di Surabaya yang dibuka pada akhir 2024 dan masih terus meningkatkan tingkat utilisasinya.
Sementara itu, kinerja pusat perbelanjaan ritel turun 1% YoY dan hotel turun 4% YoY. Kedua segmen tersebut masih tertekan akibat tingkat okupansi yang lebih rendah pada aset-aset di wilayah regional, yang pemulihannya tertinggal dibandingkan properti-properti utama (flagship properties).
"Kami memperkirakan pendapatan bisnis kesehatan akan mencatat pertumbuhan dua digit pada FY26-FY28E, didukung oleh penambahan kapasitas tempat tidur di rumah sakit yang sudah beroperasi," jelas Kevin.
Lebih lanjut Wafi menjelaskan sejumlah sentimen tambahan, dari pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya konstruksi, khususnya untuk material yang berasal dari impor, serta aksi demonstrasi pada 27 Agustus, meski relatif kondusif, berpotensi menciptakan risiko sentimen jangka pendek bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap stabilitas domestik.
Di sisi lain, terdapat sejumlah katalis positif yang dapat menjadi perhatian investor. Salah satunya adalah potensi munculnya sinyal dovish dari Bank Indonesia. Selain itu, kebijakan PFII dinilai dapat menjadi katalis jangka panjang bagi CTRA apabila benar-benar terealisasi secara material. Pasalnya, CTRA memiliki land bank yang luas sehingga berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat.
"Tetapi timeline masih sangat early dan bukan near term catalyst untuk paruh kedua 2026," imbuh Wafi.
Untuk kinerja keuangan, Berdasarkan proyeksi Kevin, pendapatan CTRA pada sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp 11,60 triliun, turun sekitar 8,1% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 12,62 triliun.
Sejalan dengan itu, laba bersih inti (core net profit) CTRA pada 2026 diproyeksikan sebesar Rp 2,43 triliun, turun sekitar 8,8% dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp 2,66 triliun.
Di tengah situasi tersebut, Kevin mempertahankan rekomendasi buy saham CTRA dengan target harga Rp 850 per saham.
Igor mempertahankan rekomendasi buy CTRA, tetapi target harganya diturunkan menjadi Rp 880 dari sebelumnya Rp 1.195 per saham.
Sementara Analis CGS International Sekuritas Baruna Arkasatyo, merekomendasikan investor untuk Hold saham CTRA dengan target harga Rp 530 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














