Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR Asset Management) resmi meluncurkan produk reksa dana pendapatan tetap terbaru, yakni STAR Fixed Income 4 Kelas Utama.
Produk ini dipasarkan melalui Bank Sinarmas sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), sebagai bagian dari sinergi strategis untuk menghadirkan akses investasi yang lebih luas, mudah, dan relevan bagi investor Indonesia.
Direktur STAR Asset Management, I Nengah Sukerja, menyatakan peluncuran produk ini dilakukan guna menjawab kebutuhan investor yang saat ini mencari instrumen investasi pendapatan tetap dengan pengelolaan yang lebih stabil, terutama di tengah dinamika pasar saat ini.
“Kami yakin saat ini instrumen Fixed Income masih memberi peluang yang menarik di tengah kondisi perubahan monitor dan keadaan pasar yang terus bergerak saat ini. Karena itu kami punya keyakinan bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat kalau kami meluncurkan produk,” kata Nengah dalam acara peluncuran di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Reksadana Saham Tertekan, Sucorinvest AM Pertahankan Fokus pada Saham BUMN
Dalam pengelolaannya, produk ini memberikan potensi kinerja di atas benchmark Indonesia 1-Month IDR Deposit Rate + 1%, sehingga memberikan peluang optimalisasi pendapatan investasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan preservasi modal.
Nengah melanjutkan, melalui produk STAR Fixed Income 4 Kelas Utama yang mengusung, STAR AM ingin menghadirkan produk yang tidak hanya menawarkan potensi imbal hasil yang kompetitif, tetapi juga memberikan rasa aman dan keyakinan bagi investor dalam menempatkan dananya.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) STAR Asset Management, Rania Rahmundita, mengatakan pasar saham telah mengalami penurunan signifikan sejak awal tahun, sementara instrumen lain seperti deposito juga menghadapi tantangan karena imbal hasil yang diperoleh setelah pajak relatif sejalan dengan tingkat inflasi sehingga nilai riil dana investor terus tergerus.
Baca Juga: OJK Catat Industri Reksadana Tetap Tumbuh, Total AUM Capai Rp 718,44 Triliun
Oleh karena itu, Rania menilai produk ini dapat menjadi pilihan yang tepat karena memiliki profil risiko rendah hingga moderat dengan portofolio yang mayoritas terdiri dari obligasi korporasi berkualitas baik dan memiliki peringkat investasi yang kuat.
“Dan kalau dilihat dari kinerja nya pun ini sangat positif, year on year positive rating 7,7% dan ini semua di saat yang lainnya seperti equity komplikasi pemerintah semua turun cukup dalam,” ujar Rania dalam kesempatan yang sama.
Ia pun mencatat imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 7,5%, sementara beberapa obligasi korporasi menawarkan imbal hasil sekitar 9% - 10%.
“Jadi itu level-level yang sebenarnya sangat menarik apabila kita lakukan sekarang untuk income jangka panjang. Kami melihat ini merupakan peluang yang baik,” jelas Rania.
Baca Juga: Pasar Tertekan, Investor Reksadana Perlu Kelola Risiko Secara Disiplin
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












