Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kelihaian mencermati peluang hidup menjadi bekal Alvin Pattisahusiwa menekuni kariernya di industri manajemen aset. Kunci utamanya adalah mencoba segala kesempatan dengan perhitungan yang tepat.
Tak ubahnya profesional di dunia keuangan lainnya, Direktur Utama Recapital Asset Management Alvin Pattisahusiwa sudah kenyang menelan berbagai dinamika keuangan di Indonesia. Namun dalam berbagai tekanan yang ada, Alvin memilih tak meninggalkan industri karena melihat prospek positif di dalamnya.
“Sebenarnya waktu itu hanya surviving mode saja. Tapi saya bertahan di situ juga karena saya yakin bahwa industri ini akan berkembang nantinya, tidak akan mati,” ujar Alvin saat ditemui Kontan belum lama ini.
Menariknya, Alvin sebenarnya tak pernah benar-benar meniatkan dirinya menjadi profesional keuangan.
Baca Juga: BEI Umumkan 59 Emiten Berpotensi Forced Delisting, Bagaimana Nasib Investor?
Awalnya Ajakan Teman
Alvin masuk ke Batavia Prosperindo Aset Manajemen (kala itu namanya Bira Asset Management) sebagai titik awal kariernya pada 1997 semata atas ajakan seorang kawan. Saat itu pun ia tak tahu-menahu soal reksadana. Maklum, reksadana merupakan produk baru di Indonesia kala itu.
Meski begitu, Alvin berupaya mengikuti alur pekerjaannya, salah satunya dengan bekal pengalaman “iseng” semasa kuliah. Sebelum masuk ke industri, sedikitnya ia sudah paham dengan cara kerja pasar saham karena pernah diajak temannya mengantre IPO saham Telkom pada 1995. Itu cukup memperkenalkannya pada dunia investasi, meski masih tetap perlu mempelajari produk lainnya.
Selama satu setengah tahun bekerja di tim settlement, Alvin naik jabatan menjadi fund manager. Namun kenaikan jabatan itu disambut dengan rasa sepi. Posisi baru yang diisi Alvin sejatinya kosong karena rekan-rekan kerjanya mulai bermigrasi ke industri lain di tengah ketidakpastian ekonomi kala itu.
“Agak gloomy kondisi di capital market waktu itu. Banyak orang-orang yang tadinya baru mau berkembang di dunia pasar modal, lari ke sektor-sektor lain. Banyak yang bangkrut. Saya sendirian,” kenang Alvin.
Diakui Kemampuannya
Di tengah krisis ia belajar mengelola dana investasi, membuat keputusan penting di tengah ketidakpastian, hingga akhirnya kemampuannya diakui dan pada 1999 ia mendapat tawaran ke salah satu pemain terbesar di industri manajemen aset: MessPierson Finas Investment Management yang kini bertransformasi menjadi BNP Paribas Asset Management.
Kala itu, dana kelolaan MessPierson mencapai Rp 20 triliun atau setara dengan kisaran 40% market share industri. Namun di perusahaan yang lebih besar pun, situasi yang Alvin hadapi tak jauh berbeda. Industri belum kondusif, berulang kali ia menerima pertanyaan yang sama dari nasabah, “Kapan bisa keluar dari pasar?”
Ia berupaya meyakinkan nasabah dengan keyakinan yang sama dengan yang ia pegang selama ini: situasi bakal membaik. Gayung bersambut, ekonomi Indonesia mulai pulih seiring meredanya tensi politik dalam beberapa bulan setelahnya.
Namun kemudian krisis terus hadir dalam bentuk lain: gelombang redemption akibat mendakinya inflasi dan suku bunga pada 2005, krisis keuangan global pada 2008 yang membuat indeks pasar terjun bebas hingga 50% lebih, dan lainnya.
Baca Juga: IHSG Melemah, Investor Waspada Sentimen Global dan Musim Laporan Keuangan
Dari situ Alvin melihat krisis bakal selalu ada dan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menghadapinya. Melewati tiga krisis di BNP Paribas AM, ia akhirnya berhasil menamatkan perjalanan kariernya di sana pada 2011 dengan total kenaikan dana kelolaan dari Rp 15 miliar menjadi Rp 25 triliun dalam kurang lebih sepuluh tahun.
Kala itu, Alvin sebenarnya berencana rehat sejenak dari kariernya dengan melanjutkan studi ke Prancis. Namun belum juga selesai masa sekolahnya, datang tawaran menggiurkan sebagai direktur investasi di Manulife Investment Management. Ia mengambil peluang itu dan terbang kembali ke Jakarta pada 2012.
Akhirnya Alvin memulai kembali kariernya. Setelah lima tahun mengemban tanggung jawab besar pertamanya sebagai direktur di Manulife, datang tawaran-tawaran lain yang membuat level kariernya semakin kian lejit: ia sempat menjabat sebagai Direktur Utama Mandiri Investasi dan Komisaris Utama Bank Aladin Syariah.
Nah jabatan komisaris ini memberi peluang bagi Alvin mengeksplorasi hal-hal lainnya. Dengan alur kerja yang lebih longgar, Alvin menjadi advisor (penasihat) di sejumlah perusahaan, termasuk di sebuah program usungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Di situ, ia menjadi penasihat untuk pembiayaan hijau.
Berlabuh ke Recapital
Pada 2025, ia menjadi Direktur Utama Recapital AM. Di sini, Alvin bilang target utamanya adalah membuat perusahaan bangkit kembali dan memperluas kiprah di industri manajemen aset.
Recapital AM telah berdiri sejak tahun 2000 dan mengalami naik-turunnya industri. Alvin bilang perusahaannya sekarang ini sempat meraih masa kejayaan di pertengahan tahun 2000–2010. Di bawah kepemimpinannya, ia ingin Recapital AM kembali ke saat-saat itu.
Selama kurang lebih setahun Alvin menjabat, Recapital AM mampu menumbuhkan dana kelolaannya dari posisi Rp 200 miliar pada awal 2025 menjadi hampir Rp 2 triliun di akhir tahun. Untuk tahun ini, Alvin mematok target yang lebih ambisius lagi, yakni Rp 7,2 triliun dana kelolaan.
Alvin optimistis target tersebut mampu dicapai dengan kerangka teamwork yang telah ia terapkan sejauh ini. Berbagai pengembangan bisnis ditempuh, termasuk penambahan sumber daya. Ia bilang saat ini jumlah karyawannya sudah bertambah sekitar 50% dibanding tahun lalu. Pun, ia menambah mitra distribusi hingga kini memiliki lebih dari 10 agen penjual efek.
“Target saya tahun dalam lima tahun masa jabatan, pada 2030 nanti, kami sudah bisa duduk di 10 besar MI di Indonesia,” ungkap Alvin.
Baca Juga: IHSG Ambles Tiga Hari Beruntun, Ini Sentimen dan Proyeksi Pekan Depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














