kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.810.000   -40.000   -1,40%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.091   -73,54   -1,03%
  • KOMPAS100 976   -13,22   -1,34%
  • LQ45 719   -13,16   -1,80%
  • ISSI 249   -2,22   -0,88%
  • IDX30 391   -7,38   -1,85%
  • IDXHIDIV20 489   -9,08   -1,82%
  • IDX80 110   -1,64   -1,47%
  • IDXV30 134   -2,29   -1,68%
  • IDXQ30 128   -2,05   -1,58%

Stanchart: Rupiah akan tembus 10.000 per dollar AS


Sabtu, 12 Januari 2013 / 12:38 WIB
Stanchart: Rupiah akan tembus 10.000 per dollar AS
ILUSTRASI. Asing paling banyak melego saham-saham ini selama sepekan


Reporter: Dyah Megasari |

JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan akan menembus level Rp 10.000 per dollar AS di tahun ini. Hal itu seiring dengan harga komoditas yang belum stabil.

Global Head of Forex Research Standard Chartered Bank Callum Henderson menjelaskan isu neraca perdagangan yang masih defisit bisa menekan nilai tukar rupiah. Pasalnya, defisit tersebut disebabkan kenaikan harga komoditas dan memburuknya ekspor.

"Rupiah di akhir semester I-2013 ini bisa menembus Rp 10.000 per dollar AS. Namun di akhir tahun bisa menguat kembali ke Rp 9.500 per dollar AS," kata Callum di Hotel Mandarin Jakarta, Jumat (11/1).

Menurutnya, defisit neraca perdagangan Indonesia pada akhir tahun 2012 (khususnya November 2012) merupakan yang tertinggi di dunia. Hal ini yang menyebabkan rupiah terus terpuruk terhadap nilai tukar mata uang asing, khususnya dollar AS.

Namun, menurut Callum, neraca perdagangan yang defisit tersebut bukan terlalu menjadi masalah bagi Indonesia. Sebab, defisitnya tercipta dari penurunan ekspor Indonesia. Terlebih lagi, 65% ekspor Indonesia merupakan ekspor komoditas yang mayoritas harganya anjlok di dunia.

"Ini masalah siklikal (terkait siklus) saja. Lambat laun, harga komoditas akan membaik, ekspor juga membaik, dan neraca perdagangan juga akan surplus. Imbasnya rupiah juga akan menguat," tambahnya.

Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, menambahkan Bank Indonesia (BI) masih memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk mengintervensi kondisi rupiah yang terus melemah.

"Hingga akhir 2012 lalu, cadangan devisa BI masih US$ 112,78 miliar. Itu masih cukup," kata Fauzi. Terlebih lagi, BI juga masih punya kebijakan Devisa Hasil Ekspor yang memaksa para pengekspor untuk menaruh dananya di perbankan nasional. Hal ini masih bisa menambah posisi cadangan devisa BI beberapa waktu. (Didik Purwanto/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×