kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.886   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.147   -46,20   -0,75%
  • KOMPAS100 792   -4,39   -0,55%
  • LQ45 606   -2,44   -0,40%
  • ISSI 215   -2,60   -1,20%
  • IDX30 336   -1,40   -0,42%
  • IDXHIDIV20 430   -1,07   -0,25%
  • IDX80 90   -0,46   -0,51%
  • IDXV30 117   -0,72   -0,61%
  • IDXQ30 110   -0,12   -0,11%

Wall Street Tertekan, Yield Treasury dan Harga Minyak Kembali Melonjak


Rabu, 07 Oktober 2026 / 22:36 WIB
Wall Street Tertekan, Yield Treasury dan Harga Minyak Kembali Melonjak
ILUSTRASI. Wall Street - Bursa AS (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks saham utama Wall Street melemah dari level rekor pada perdagangan Rabu (7/10/2026), seiring kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan harga minyak mentah.

Investor kini menunggu risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada September untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga selanjutnya.

Sentimen pasar menjadi lebih berhati-hati ketika investor kembali mengevaluasi prospek suku bunga dan biaya energi. Harga minyak mentah Brent kembali menembus level psikologis US$ 100 per barel karena kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah masih berlanjut.

"Kami melihat sedikit aksi ambil untung hari ini. Pasar sangat fokus pada risalah The Fed, tetapi pada akhirnya pergerakan harga minyak dan yield yang akan menentukan arah pasar hari ini," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities.

Saham-saham semikonduktor menjadi salah satu kelompok yang mencatat penurunan terbesar. Saham Micron Technology turun 2,3%, sementara saham Nvidia melemah 0,7%. Indeks Philadelphia Semiconductor atau Philadelphia Semiconductor Index juga turun 2,3%.

Baca Juga: Siap-Siap! Sejumlah BUMN Bakal Melantai di BEI pada 2027, Ini Sektornya

Saham SpaceX milik Elon Musk turun 1,7% setelah Financial Times melaporkan perusahaan roket dan kecerdasan buatan (AI) tersebut tengah mencari pendanaan senilai US$ 40 miliar untuk membiayai pembelian chip Nvidia.

Sebanyak delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 diperdagangkan melemah. Sektor material dan industri memimpin penurunan.

Sebaliknya, sektor energi dan kesehatan masing-masing menguat 0,6%.

Pada pukul 09.43 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 472,21 poin atau 0,92% menjadi 51.049,07. Sementara itu, S&P 500 melemah 44,80 poin atau 0,56% menjadi 7.775,04 dan Nasdaq Composite turun 235,16 poin atau 0,85% menjadi 27.364,73.

Yield Treasury 30 Tahun Tertinggi Sejak 2002

Tekanan terhadap pasar saham juga datang dari pasar obligasi. Yield Treasury AS bertenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2002, yakni 5,72%, menjelang publikasi risalah pertemuan kebijakan The Fed pada September.

Dalam pertemuan tersebut, para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Konsolidasi Kamis (8/10), Pasar Cermati Yield Treasury AS dan FOMC

Pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih terbuka berdasarkan CME FedWatch Tool.

Kinerja indeks juga menunjukkan bahwa kenaikan pasar saham AS belum sepenuhnya merata. Indeks S&P 500 berbobot sama masih berjarak lebih dari 5% dari rekor tertingginya. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 yang sensitif terhadap suku bunga telah turun lebih dari 8% dari level tertinggi sepanjang masa.

Investor Bersiap Hadapi Musim Laporan Keuangan

Perhatian investor selanjutnya diperkirakan beralih kepada kondisi kinerja perusahaan AS ketika musim laporan keuangan kuartal III 2026 dimulai pekan depan. Sejumlah perusahaan keuangan besar dijadwalkan menyampaikan laporan kinerja pada Selasa.

Saham AS sebelumnya mendapat dukungan dari optimisme terhadap investasi di sektor AI serta ekspektasi terhadap kinerja laba perusahaan yang kuat. Optimisme tersebut bertahan meskipun harga energi meningkat dan aksi jual di pasar obligasi selama musim panas memicu kekhawatiran mengenai kebijakan moneter yang lebih ketat.

Menurut LSEG, analis saat ini memperkirakan laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 tumbuh secara agregat sebesar 30,6% pada periode Juli-September.

Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspektasi lonjakan laba sektor energi sebesar 114,7%. Sementara itu, laba sektor teknologi diperkirakan meningkat 66,5%.

Baca Juga: Ada Transaksi Jumbo Rp 26,1 Triliun di Saham Bayan Resources (BYAN), Haji Isam Masuk?

Meskipun pertumbuhan laba sekitar 30% tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal II, ketika perusahaan-perusahaan S&P 500 mencatat lonjakan laba sebesar 54%, investor tetap berharap musim laporan keuangan yang positif dapat menopang pasar saham yang berada di sekitar level rekor.

Di antara saham lainnya, Roblox turun 1,6% setelah Google dan Unity mengumumkan kemitraan untuk mengembangkan platform gim berbasis AI baru yang berpotensi menjadi pesaing bagi penawaran platform gim tersebut.

Di Bursa New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham yang turun dibandingkan saham yang naik berada pada rasio 3,74 banding 1. Sementara di Nasdaq, rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 3,19 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat delapan saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima saham yang mencatat level terendah baru. Adapun Nasdaq Composite mencatat delapan saham yang mencapai level tertinggi baru dan 129 saham yang menyentuh level terendah baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×