Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek penguatan mata uang Asia kembali terbuka seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap perubahan arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (18/8/2026), indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,629. Pada saat yang sama, pergerakan mata uang Asia berlangsung beragam. USD/JPY tercatat di level 159,638, USD/IDR berada di Rp 17.870,2, USD/CNY di 6,74599, USD/KRW di 1.412,88, dan USD/SGD di 1,27795.
Pergerakan tersebut berlangsung ketika DXY masih tertahan di bawah level psikologis 100. Kondisi ini menjadi salah satu katalis utama bagi mata uang kawasan Asia.
Pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed setelah sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September bahkan turun tajam menjadi sekitar 35%, dari sebelumnya berada di atas 52% pada pekan lalu.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat 0,75% Hari Ini (18/8), Top Gainers LQ45: WIFI, INDY, EXCL
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan mata uang Asia saat ini dipengaruhi oleh kombinasi pelemahan dolar AS, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed, perkembangan geopolitik, serta dinamika harga minyak dunia.
Tekanan masih terlihat pada yen Jepang. Bank of Japan (BoJ) dinilai relatif berhati-hati dalam proses normalisasi kebijakan moneternya sehingga aktivitas carry trade masih menjadi faktor yang membayangi kinerja yen.
Sebaliknya, pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara-negara eksportir dan pasar berkembang di Asia untuk menguat. Meski demikian, potensi apresiasi setiap mata uang tetap bergantung pada kondisi fundamental ekonomi dan neraca perdagangan masing-masing negara.
Dalam peta mata uang Asia, won Korea Selatan (KRW) dan yuan Tiongkok (CNY) dinilai memiliki prospek yang cukup menarik untuk dicermati investor.
Won Korea Selatan berpotensi memperoleh manfaat dari pelemahan dolar AS serta pemulihan kinerja ekspor Korea Selatan. Sementara itu, yuan Tiongkok mendapatkan dukungan dari surplus transaksi berjalan yang solid dan potensi stabilisasi ekonomi domestik China.
Di sisi lain, dolar Singapura (SGD) dapat menjadi pilihan bagi investor yang mengutamakan aspek defensif dalam portofolio. Fundamental ekonomi yang relatif kuat membuat dolar Singapura lebih mampu bertahan menghadapi ketidakpastian global dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Prospek Mata Uang Asia hingga Akhir 2026
Hingga akhir 2026, prospek mata uang Asia terhadap dolar AS diperkirakan masih positif. Namun, penguatan tersebut diperkirakan tidak berlangsung secara linier karena pasar masih menghadapi sejumlah risiko eksternal.
Baca Juga: Intip Prospek dan Proyeksi Mata Uang Asia hingga Akhir Tahun 2026
Skenario utama pasar menunjukkan bahwa apabila The Fed mulai mengambil sikap yang lebih dovish di tengah perlambatan moderat ekonomi AS, DXY berpotensi bertahan di bawah level 100. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk melanjutkan apresiasi.
"Skenario utama saya adalah jika The Fed mulai bergerak lebih dovish sementara pertumbuhan ekonomi AS melambat secara moderat, maka DXY berpotensi tetap berada di bawah 100 dan memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk menguat," kata Lukman kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
Namun, peluang penguatan mata uang Asia tetap menghadapi risiko dari eskalasi konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia.
Bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi seperti Korea Selatan dan Indonesia, kenaikan harga minyak yang bertahan pada level tinggi dapat memperburuk neraca perdagangan sekaligus memberikan tekanan terhadap nilai tukar.
Tiga Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Lukman menyebut terdapat tiga faktor utama yang perlu diperhatikan investor dalam mencermati pergerakan mata uang Asia hingga akhir tahun.
Pertama, arah kebijakan The Fed dan data ekonomi AS, terutama indikator inflasi serta ketenagakerjaan. Kedua indikator tersebut menjadi katalis penting bagi arah dolar AS.
Kedua, perkembangan harga minyak dan konflik geopolitik di Timur Tengah. Perubahan harga energi dapat memberikan dampak langsung terhadap inflasi dan neraca perdagangan negara-negara Asia yang menjadi importir energi.
Baca Juga: Indeks Dolar AS Melemah di Bawah 100, Begini Prospek Yen, Won, Yuan dan Rupiah
Ketiga, perbedaan arah suku bunga antara The Fed, BoJ, Bank Indonesia (BI), dan Bank of Korea. Perbedaan kebijakan tersebut turut menentukan daya tarik relatif masing-masing mata uang bagi investor global.
Dengan berbagai faktor tersebut, Lukman menyarankan investor tidak menerapkan strategi yang sama terhadap seluruh mata uang regional.
"Lebih ideal melakukan pendekatan selektif, memilih mata uang dengan fundamental domestik kuat, inflasi terkendali, serta ruang kebijakan moneter yang mendukung," ujar Lukman.
Pendekatan selektif tersebut dapat membantu investor mengurangi dampak volatilitas pasar sekaligus menangkap peluang imbal hasil dari mata uang Asia yang memiliki fundamental ekonomi relatif kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
