kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45935,51   7,16   0.77%
  • EMAS1.335.000 1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Simak Pilihan Investasi Mata Uang Asing ketika Ekonomi Global Sulit


Senin, 14 Agustus 2023 / 16:40 WIB
Simak Pilihan Investasi Mata Uang Asing ketika Ekonomi Global Sulit
ILUSTRASI. Ketangguhan Dolar Amerika Serikat (AS) masih dapat dimanfaatkan dalam beberapa waktu ke depan.ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketangguhan Dolar Amerika Serikat (AS) masih dapat dimanfaatkan dalam beberapa waktu ke depan. Investor juga dapat melirik mata uang safe haven sebagai pilihan investasi valuta asing (valas).

Pengamat Mata Uang Lukman Leong mencermati, dolar AS (USD) masih menjadi pilihan utama investasi valas saat ini hingga beberapa bulan ke depan. The Greenback diyakini masih akan terus menguat terhadap rupiah ataupun sejumlah mata uang utama lainnya.

“Dolar AS masih didukung oleh tingkat suku bunga tinggi, bahkan tertinggi diantara semua mata uang utama,” kata Lukman kepada Kontan.co.id, Senin (14/8).

Sejak pertengahan tahun lalu, Bank Sentral AS secara agresif mengerek suku bunga menuju ke level 5,25% - 5,5% per Juli 2023. Dimana, tingkat suku bunga The Fed saat ini menjadi level tertinggi suku bunga The Fed dalam dua dekade terakhir.

Baca Juga: BI Intervensi Saat Rupiah Menyentuh Level Paling Lemah Dalam 5 Bulan Terakhir

Lukman menambahkan, perlambatan ekonomi global juga akan mendukung dolar AS sebagai mata uang safe haven atau aset yang memiliki lindung nilai. 

Efek kebijakan suku bunga tinggi sejumlah bank sentral dunia berpotensi menyebabkan perlambatan ekonomi global, ditambah lagi memburuknya situasi perekonomian China yang kini mengalami deflasi.

Selain dolar AS, Swiss Franc (CHF) dan Dolar Singapore (SGD) cukup layak dikoleksi sebagai pilihan investasi valas. CHF dan SGD didukung oleh surplus neraca berjalan yang besar dan berkepanjangan. Tingkat suku bunga acuan juga relatif tinggi di negara kedua mata uang tersebut.

Seperti halnya USD, mata uang Singapura dan mata uang Swiss juga termasuk aset safe haven yang dapat menjadi pilihan ketika situasi ekonomi sulit. Walaupun, SGD merupakan aset lindung nilai untuk sebatas regional Asia Tenggara.

Menurut Lukman, USD/IDR dapat berkisar Rp 15.500 per dolar AS di akhir tahun ini. Sementara, CHF/IDR dan SGD/IDR masing-masing bakal menguat ke level kisaran 18.000 dan 11.700 di akhir tahun 2023.

Sementara itu, Lukman melihat, preferensi investor ke depannya akan berubah dengan kembali melirik mata uang yang lebih berisiko untuk jangka panjang. Hal itu karena perekonomian dunia diperkirakan sudah mencapai titik terendah dan menuju rebound yang diprediksi mulai dari akhir tahun 2023 atau awal tahun 2024.

Adapun mata uang berisiko pada dasarnya adalah mata uang di luar USD, CHF dan JPY. Namun biasanya mata uang berisiko mengarah ke mata uang Emerging Market seperti Indonesian Rupiah (IDR), Thailand Baht (THB), Indian Rupee (INR), serta Dolar Australia (AUD).

Baca Juga: Yen Jepang Jadi Pilihan Utama Investasi Valas Saat Dolar AS Melandai

Lukman menilai, rupiah dalam jangka panjang memiliki prospek bagus karena akan terus didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat seperti pertumbuhan ekonomi. Selain itu, cadangan devisa (cadev) diharapkan akan meningkat secara signifikan menyusul adanya revisi Peraturan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang pada akhirnya akan menguatkan nilai tukar rupiah.

Dolar Australia juga layak diperhitungkan sebagai pilihan valas untuk ke depannya. Mata uang komoditas seperti AUD diperkirakan bakal menikmati keuntungan dari bangkitnya perekonomian dunia di tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×