kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45959,76   16,42   1.74%
  • EMAS945.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 0.64%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Sentimen negatif ini yang berpotensi menekan harga minyak


Rabu, 24 November 2021 / 18:08 WIB
Sentimen negatif ini yang berpotensi menekan harga minyak
ILUSTRASI. AS dan negara maju di kawasan Eropa dan Asia berencana melepaskan cadangan minyak ke pasar.

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat (AS) dan negara maju di kawasan Eropa dan Asia berencana melepaskan cadangan minyak ke pasar. Aksi tersebut bertujuan untuk menurunkan harga minyak yang melambung. Namun, pasar belum merespon dan harga minyak masih naik. 

Mengutip Bloomberg, Rabu (24/11), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di pasar Nymex masih naik 0,42% ke US$ 78,83 per barel. 

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan harga minyak masih beranjak naik karena jumlah pelepasan cadangan minyak mentah dari AS dan negara lain lebih rendah dari estimasi pasar. Faisyal mengutip dari riset Goldman Sachs yang memperkirakan jumlah pelepasan cadangan minyak dari AS dan negara lain sebesar 70 juta barel. Sedangkan, pelaku pasar berharap jumlah cadangan minyak yang dilepas di pasar sebesar 100 juta barel. 

Baca Juga: Pelepasan cadangan minyak AS belum mampu menekan harga minyak dunia

Di satu sisi pergerakan harga minyak masih terbatas, karena pelaku pasar masih bersikap wait and see pada pertemuan organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi (OPEC). 

Faisyal mengatakan meski harga minyak saat ini naik, tetapi ke depan harga minyak berpotensi menurun. Sentimen negatif yang menyelimuti harga minyak adalah pernyataan Menteri  Energi Uni Emirat Arab (UEA) yang mengatakan tidak logis bila negara Timur Tengah masih meningkatkan produksi, mengingat data hingga kuartal pertama 2022 menunjukkan terjadinya surplus pasokan minyak. 

Baca Juga: Penuhi Permintaan AS, Jepang Akan Melepas Ratusan Ribu Kiloliter Çadangan Minyaknya

Namun, jika pelepasan cadangan minyak jumlahnya diperbesar, maka harga minyak juga berpotensi tertekan. Faisyal memproyeksikan harga minyak berpotensi turun ke US$ 75 per barel di akhir tahun ini.

Sementara, proyeksi harga minyak di semester I-2022 juga berpotensi turun ke US$ 60 per barel. Sentimen negatif lain yang menekan harga minyak di tahun depan adalah jika Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya dan dolar AS menguat. 

Baca Juga: Harga minyak berbalik melemah, WTI masih di bawah US% 80 per barel di pagi ini

Selanjutnya: Simak proyeksi IHSG dan rekomendasi saham untuk perdagangan Kamis (25/11)

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×