kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45944,75   -7,79   -0.82%
  • EMAS917.000 -0,54%
  • RD.SAHAM -0.87%
  • RD.CAMPURAN -0.36%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.50%

Sentimen ini akan mewarnai pergerakan IHSG pekan depan


Minggu, 24 Januari 2021 / 13:11 WIB
Sentimen ini akan mewarnai pergerakan IHSG pekan depan
ILUSTRASI. Sentimen ini akan mewarnai pergerakan IHSG pekan depan.

Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Sejumlah sentimen dari global dan dalam negeri bakal turut mewarnai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan depan.

Dari global, Direktur Anugerah Megah Investama, Hans Kwee, mengatakan, pasar keuangan dipengaruhi oleh sentimen rencana stimulus fiskal bantuan virus Covid-19 oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Yang mana Biden telah mengusulkan rencana stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun.

Partai Demokrat yang mendukung Biden saat ini partainya mengendalikan Kongres Amerika Serikat sehingga paket tersebut hampir pasti lolos.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, mengatakan parlemen siap untuk mengesahkan RUU stimulus fiskal tersebut pada pekan pertama Februari. Beberapa paket stimulus fiskal yang di rencanakan Biden menjadi amunisi penguatan pasar keuangan.

Baca Juga: IHSG diproyeksi menguat terbatas pada perdagangan Senin (25/1), ini pemicunya

Hans melanjutkan, stimulus fiskal yang besar berpotensi mendorong belanja dan pinjaman yang besar untuk mendukung perekonomian. Pinjaman baru yang besar dan harapan pemulihan ekonomi yang berpotensi mendorong inflasi AS lebih tinggi mendorong tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak naik.

“Di sisi lain stimulus fiskal yang besar juga mendorong pasar ekuitias naik lebih tinggi. Nampaknya pasar dipenuhi optimisme pemulihan ekonomi. Pasar ekuitas terlihat menarik di tengah harapan pemulihan ekonomi,” ujarnya, Minggu (24/1).

Menurutnya, kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS sebenarnya berpotensi mendorong penguatan nilai tukar AS. Tetapi, stimulus yang besar berpotensi mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat meningkatkan minat pelaku pasar akan asset berisiko.

Hal tersebut mendorong dana masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia, sehingga pelemahan nilai tukar rupiah relatif terbatas di tengah kenaikan Yiled government bond AS.

Kenaikan Yield Amerika Serikat juga berpotensi mendorong Yield dalam negeri naik, tetapi relative terbatas akibat likuiditas di pasar yang sangat longgar. Aliran dana berpotensi mendorong asset berisiko naik karena lebih diminati.

Baca Juga: IHSG diramal melemah pada perdagangan Senin (25/1), ini rekomendasi analis

Selain itu, Biden mengumumkan Amerika Serikat kembali ke perjanjian iklim Paris untuk memerangi perubahan iklim. Dia juga mencabut izin bagi proyek pipa minyak Keystone XL dari Kanada.

Pemerintah juga berkomitmen untuk mengakhiri kontrak sewa lahan minyak dan gas baru di tanah federal. Langkah ini menjadi sentimen positif bagi industri terkait energi terbarukan.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×