kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Sembilan Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Cek Rekomendasi Analis


Rabu, 08 April 2026 / 19:05 WIB
Sembilan Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Cek Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. PLTP PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) (Dok/BREN)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis sembilan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi per Maret 2026. Ini membuka peluang sekaligus risiko bagi investor di tengah potensi tekanan harga.

Kesembilan saham tersebut antara lain PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS).

Selain itu ada PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) dan PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK).

Berikutnya, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Tingkat kepemilikan terkonsentrasi pada saham tersebut mencapai di atas 95%.

Baca Juga: 9 Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Intip Rekomendasi Sahamnya

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan bahwa pertama yang perlu dipahami, saham-saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) bukan berarti melanggar regulasi. 

“Daftar ini disampaikan oleh BEI sebagai early warning indicator agar investor lebih aware terhadap struktur kepemilikan saham yang relatif terkonsentrasi,” ujar Imam kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).  

Di sisi lain, regulator juga telah melakukan penyesuaian aturan terkait free float, dimana emiten yang belum memenuhi ketentuan diberikan waktu hingga tiga tahun untuk melakukan penyesuaian. 

Imam melihat timeframe ini cukup memadai bagi emiten untuk melakukan transisi, baik melalui aksi korporasi maupun lainnya. Dengan demikian, Imam menilai tidak ada hal yang terlalu perlu dikhawatirkan secara berlebihan. 

“Namun demikian, karena tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi, saham-saham dalam kategori ini secara natural memiliki risiko volatilitas yang lebih tinggi,” terang Imam. 

Baca Juga: Saham Bank Swasta Lapis Kedua Tampak Lebih Tangguh, Cek Rekomendasi Analis

Dari sisi fundamental, Imam mengatakan bahwa saham yang masuk dalam daftar HSC saat ini diperdagangkan pada valuasi yang relatif premium atau overvalued, sehingga menjadi kurang menarik secara valuasi.

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih relevan dalam jangka pendek adalah melalui analisis teknikal. 

Dari sejumlah saham dalam daftar tersebut, Indo Premier Sekuritas melihat PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebagai salah satu yang cukup menarik.

 

Secara year-to-date, harga saham BREN telah mengalami koreksi signifikan, sekitar 50%, dan dalam beberapa hari terakhir terlihat telah menguji demand zone, disertai money flow yang cenderung akumulasi.

Baca Juga: BREN dan BRMS Berpotensi Masuk Indeks MSCI Periode November, Cek Rekomendasi Analis

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Imam merekomendasikan Buy saham BREN pada kisaran 4.710 – 4.920, dengan target harga di 5.575 dan stop loss apabila harga turun di bawah 4.590.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×