kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

9 Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Intip Rekomendasi Sahamnya


Minggu, 05 April 2026 / 18:48 WIB
9 Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Intip Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis sembilan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi per Maret 2026.  (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis sembilan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi per Maret 2026. Ini membuka peluang sekaligus risiko bagi investor di tengah potensi tekanan harga.

Yakni,  PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS). Selain itu ada PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) dan PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK).

Kemudian ada PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Tingkat kepemilikan terkonsentrasi pada saham tersebut bahkan mencapai di atas 95%.

Baca Juga: BEI Rilis Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Ini Daftarnya

Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee mengatakan, pengumuman daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi merupakan hal yang positif karena bisa menjadi sinyal awal bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. 

“Ada potensi kesembilan saham tersebut terkoreksi, tetapi karena high shareholding concentration seharusnya penurunan harga bisa terbatas,” jelasnya kepada Kontan, Minggu (5/4/2026). 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan saham dengan fundamental kuat masih memiliki daya tahan di tengah kondisi ini. Namun investor tetap perlu mencermati level teknikal dan risiko penurunan harga. 

Menurutnya, status kepemilikan saham terkonsentrasi berpotensi meredam sentimen positif seperti aksi korporasi. Salah satunya seperti rencana stock split yang biasanya mendorong likuiditas.

“Status ini bisa mengerem euforia stock split karena likuiditas belum tentu langsung meningkat,” kata Nafan.

Nafan bilang, saham dengan kapitalisasi kecil dan likuiditas rendah lebih rentan mengalami tekanan harga. Pergerakan saham juga cenderung terbatas dan berisiko mengalami tren penurunan.

“Beberapa saham berpotensi turun karena likuiditas rendah dan minat pasar terbatas,” jelas Nafan.

Potensi Pemangkasan Bobot di Indeks Global

Sementara itu,Pjs. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyebut, ada kemungkinan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi yang sudah masuk dalam indeks global akan dikeluarkan atau diturunkan bobotnya usai transparansi yang dilakukan.

“Jadi bisa saja ada potensi, misalnya potensi penurunan bobot untuk saham-saham Indonesia, baik dari hasil analisis granularity maupun high shareholding concentration (HSC),” katanya belum lama ini. 

Namun Jeffrey meyakini dalam jangka panjang akan baik bagi pasar saham Indonesia dan akan membuat bobot saham-saham Indonesia akan menjadi jauh lebih tinggi di masa mendatang. 

“Tentu pasar akan punya mekanisme untuk melihat dan pasar selalu forward looking. Kalau pasar meyakini dalam jangka panjang ini suatu yang baik, saya kira pasar akan respon positif,” tuturnya. 

Baca Juga: BEI Terbitkan Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi, Ini Penjelasannya

Dia bilang terlepas dari potensi penurunan bobot, bisa saja pasar akan bereaksi positif. Jeffrey menegaskan apa yang dilakukan BEI bersama OJK ini bukan membuat pasar naik atau turun. 

Berdasarkan catatan IPO Platinum Club, saham yang berada dalam indeks MSCI dan masuk dalam daftar high shareholding concentration berpotensi langsung dikeluarkan oleh MSCI dari indeks dan tidak bisa lagi masuk dalam waktu 12 bulan. 

“Bagi saham baru yang masuk ke dalam high shareholding concentration akan dipastikan tidak bisa masuk ke dalam indeks MSCI,” tulis tim analis IPO Platinum Club dalam catatan yang dirilis Kamis (2/4/2026). 

Rekomendasi Saham

Nafan menambahkan, secara teknikal beberapa saham yang masuk daftar kepemilikan dengan konsentrasi tinggi masih berada dalam tren turun atau konsolidasi. Investor disarankan lebih berhati-hati dalam mengambil posisi pada saham tersebut.

Dari kesembilan saham itu, Nafan rekomendasikan hold saham DSSA dengan target harga Rp 72.800. Kemudian hold saham BREN dan RLCO masing-masing dengan target Rp 4.640 per saham dan Rp 5.050 per saham.  

Sementara, Hans menyarankan bagi investor yang memiliki saham yang masuk dalam daftar HSC bisa melakukan aksi penjualan ketika kondisi pasar saham Indonesia sudah lebih stabil. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Video Terkait



TERBARU

[X]
×