Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham terdampak perubahan konstituen MSCI August Index Review 2026 setelah MSCI melakukan sejumlah penyesuaian pada indeksnya.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) didepak dari MSCI Global Standard Index, sedangkan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turun ke kategori Small Cap.
Sementara itu, PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, perubahan tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa persoalan pasar modal Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ukuran kapitalisasi, tetapi juga kualitas investability saham.
Baca Juga: Proyek Smelter HPAL Catat Progres Signifikan, Ini Prospek Saham Vale Indonesia (INCO)
“Kasus GOTO dan CPIN menunjukkan bahwa pekerjaan rumah pasar modal Indonesia bukan hanya mempertahankan status negara, melainkan meningkatkan kualitas saham-saham yang menjadi representasi pasar,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (13/8/2026).
Menurut Hendra, keputusan MSCI tersebut perlu dilihat dari aspek likuiditas, free float, serta kemudahan investor asing dalam melakukan transaksi. Dengan demikian, kapitalisasi pasar yang besar tidak serta-merta membuat suatu saham memiliki tingkat investability yang tinggi.
“Kapitalisasi besar tidak otomatis berarti saham tersebut memiliki kualitas investability yang tinggi,” jelasnya.
Ia mencontohkan GOTO. Meskipun memiliki kapitalisasi pasar yang besar, ketersediaan saham untuk publik dan tingkat likuiditas tetap menjadi pertimbangan bagi investor institusi global.
“Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ukuran pasar secara nominal dengan kualitas pasar secara riil,” katanya.
Hendra menilai, keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI berpotensi memberikan tekanan terhadap pergerakan harga dalam jangka pendek, terutama karena investor yang mengikuti indeks tersebut perlu melakukan penyesuaian portofolio.
Namun, dampaknya terhadap masing-masing emiten tidak akan seragam. Saham dengan fundamental kuat dan likuiditas yang memadai dinilai memiliki peluang lebih besar untuk kembali menarik minat investor setelah tekanan teknikal akibat rebalancing mereda.
Baca Juga: Ini Target Harga Terbaru Energi Mega Persada (ENRG) Usai Rights Issue
“Investor global tidak hanya membutuhkan pasar yang besar, tetapi pasar yang likuid, transparan, dalam dan investable,” ujarnya.
Salah satu saham yang dinilai masih menarik meski terdampak perubahan MSCI adalah ESSA. Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, tekanan jual akibat keluarnya ESSA dari MSCI Small Cap Index cenderung bersifat teknikal dan tidak mengubah prospek fundamental perusahaan.
“Di antara saham yang dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index, kami melihat ESSA sebagai salah satu kandidat terbaik untuk trading buy,” ujarnya.
Sukarno menilai fundamental ESSA masih solid setelah perusahaan membukukan pertumbuhan kinerja yang kuat pada Semester I-2026. Pendapatan ESSA tumbuh sekitar 36% secara tahunan, sementara laba bersih melonjak lebih dari 100% secara tahunan.
Kinerja tersebut terutama didukung oleh kenaikan harga jual amonia serta perbaikan margin perusahaan. Prospek harga amonia yang masih positif juga dinilai dapat menjadi katalis bagi kinerja ESSA pada Semester II-2026.
Baca Juga: Energi Mega (ENRG) Siapkan Ekspansi, Bor 120 Sumur Hingga Lima Tahun Mendatang
“Prospek harga amonia masih relatif positif,” kata Sukarno.
Ia mencatat, harga amonia Timur Tengah yang menjadi salah satu acuan pasar telah meningkat sekitar 27% secara year-to-date (YtD) menjadi sekitar US$ 795 per ton. Kondisi tersebut berpotensi menopang harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) serta profitabilitas ESSA.
Dengan demikian, Sukarno melihat tekanan harga saham ESSA akibat rebalancing MSCI sebagai peluang untuk melakukan akumulasi secara selektif, selama fundamental perusahaan tetap terjaga.
“Kami rekomendasi trading buy untuk ESSA dengan target Rp700-Rp735 per saham,” jelasnya.
Sementara itu, Hendra mengingatkan bahwa investor sebaiknya tidak semata-mata mengambil keputusan berdasarkan status suatu saham di indeks MSCI. Kinerja fundamental, likuiditas, arus dana asing, serta katalis bisnis tetap menjadi faktor utama yang menentukan prospek harga saham dalam jangka menengah hingga panjang.
Ia juga menilai investor perlu mencermati dampak perubahan indeks terhadap aliran dana asing. Saham yang dikeluarkan dari indeks berpotensi mengalami tekanan dari aksi penyesuaian portofolio investor pasif, tetapi tekanan tersebut tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan.
Baca Juga: Kinerja Emiten Unggas Berpotensi Pulih pada Semester II-2026, Didukung Program MBG
“Tekanan jual akibat rebalancing MSCI cenderung bersifat teknikal,” ujar Hendra.
Menurutnya, setelah efek rebalancing mereda, investor akan kembali menilai masing-masing emiten berdasarkan kualitas fundamental dan prospek pertumbuhan bisnisnya. Karena itu, saham-saham yang terdampak tetap berpeluang pulih apabila mampu menunjukkan kinerja operasional yang kuat dan kembali meningkatkan daya tariknya di mata investor.
“Pasar modal yang sehat bukan sekadar pasar dengan banyak perusahaan tercatat, tetapi pasar yang memiliki cukup banyak saham dengan free float sehat, likuiditas tinggi, tata kelola baik dan mampu menyerap transaksi investor dalam skala besar,” tutup Hendra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
