kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sederet Emiten akan Gelar Rights Issue dan Private Placement, Cermati Rekomendasinya


Selasa, 19 Maret 2024 / 07:38 WIB
Sederet Emiten akan Gelar Rights Issue dan Private Placement, Cermati Rekomendasinya
ILUSTRASI. Sederet emiten telah mengumumkan rencana untuk menggelar aksi korporasi rights issue maupun private placement.(KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penambahan modal melalui rights issue maupun private placement cukup meriah di kuartal pertama tahun ini. Sederet emiten telah mengumumkan rencana untuk menggelar aksi korporasi tersebut dengan bermacam keperluan.

Contohnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 603,44 juta saham baru. Rights issue ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban divestasi INCO kepada pemerintah Indonesia, yang dilakukan melalui holding tambang BUMN, MIND ID. 

Lewat divestasi lanjutan ini, MIND ID akan mendapat tambahan 14% sehingga nantinya akan memiliki 34% saham INCO. 

Masih dari emiten nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) alias Harita Nickel bahkan berencana untuk menggelar rights issue dan private placement.

Baca Juga: Emiten Ramai Menjaring Dana dari Rights Issue

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat (15/3), NCKL baru mendapat persetujuan untuk menggelar rights issue. 

Pemegang saham NCKL menyetujui peningkatan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) melalui mekanisme Penawaran Umum Terbatas, sebanyak-banyaknya 18,92 miliar saham.

Jumlah saham yang akan diterbitkan minimal 10% dan maksimal 30% dari modal ditempatkan dan disetor NCKL saat ini. 

Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy mengungkapkan penawaran umum terbatas ini merupakan upaya untuk memperkuat pertumbuhan dan pengembangan usaha.

Dana yang diperoleh akan dipakai untuk mendukung ekspansi NCKL, termasuk pembelian saham pada perusahaan di bidang pemurnian bijih nikel atau pertambangan lainnya. 

"Kami berkomitmen menggunakan dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini guna meningkatkan nilai pemegang saham dan memperkuat pertumbuhan perusahaan," ungkap Roy dalam rilis, Jumat (15/3).

Selain duo emiten nikel tersebut, ada juga dua emiten bank yang akan menggelar rights issue. Mereka adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) dan PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS). Estimasi perolehan dana dari aksi korporasi ini masing-masing mencapai Rp 3,2 triliun dan Rp 1,17 triliun.

Emiten lain yang akan melakukan rights issue di antaranya ada  PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI). Sedangkan emiten yang berencana menggelar private placement ada PT SLJ Global Tbk (SULI) dan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP).

Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengamati sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan emiten menggelar aksi rights issue maupun private placement. 

Pertama, bisa terjadi ketika pendanaan melalui utang sudah maksimal, yang ditandai dengan rasio leverage tinggi.

Dalam situasi itu, emiten perlu menambah modal melalui penerbitan saham, sehingga rasio leverage turun dan kembali memiliki ruang. 
Kedua, faktor makro ekonomi dalam memilih opsi penambahan modal. Seperti pada kondisi suku bunga sedang tinggi sehingga pendanaan melalui utang bisa menimbulkan beban keuangan yang memberatkan perusahaan.

"Faktor lainnya adalah mandatory seperti aturan pemenuhan jumlah modal tertentu yang dipersyaratkan regulator seperti pada sektor perbankan," kata Alfred kepada Kontan.co.id, Senin (18/3).

Baca Juga: Trimegah Bangun Persada (NCKL) Gelar RUPSLB Soal Rights Issue, Ini Hasilnya

Terkait rights issue emiten perbankan, Alfred menyoroti porsi modal akan mempengaruhi skala core bisnis emiten. Dus, aksi ini cenderung akan memberikan sentimen positif bagi pertumbuhan ke depan. Hanya saja, keberhasilan eksekusi rights issue maupun private placement ditentukan oleh sejumlah faktor.

Setidaknya ada tiga faktor yang memegang peranan penting. Meliputi harga pelaksanaan dan porsi rights yang diterbitkan, daya tarik dari fundamental emiten, serta minat investor di pasar saham. 

"Investor akan lebih selektif untuk menyerap saham yang dikeluarkan oleh emiten," sebut Alfred.

Analis Stocknow.id M. Thoriq Fadilla juga menilai pasar akan lebih selektif. Apalagi dalam kondisi yang sedang fluktuatif seperti saat ini, investor akan lebih cenderung bersikap moderat. Thoriq pun menyoroti transaksi di pasar saham yang masih memperlihatkan sikap wait and see dari para investor.

Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memandang pelaksanaan rights issue maupun private placement saat ini bisa menjadi momentum yang tepat. Asalkan, emiten tersebut memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang apik.

Sukarno mengingatkan beberapa hal penting yang mesti menjadi pertimbangan pelaku pasar. Pada rights issue, pastikan harganya lebih murah daripada nilai intrinsik saham. Kemudian, perhatikan juga rasionya, karena semakin tinggi rasio HMETD, semakin besar potensi dilusi.

Sedangkan untuk private placement, teliti latar belakang calon investornya. 

"Pastikan investor yang terlibat memiliki reputasi yang baik dan dapat memberikan nilai tambah bagi emiten, dan emiten memiliki prospek bisnis cerah setelah private placement," ujar Sukarno.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengingatkan umumnya rights issue membuat harga saham mengalami koreksi dalam jangka pendek. Namun, jika tambahan modal digunakan untuk ekspansi bisnis atau penguatan struktur modal, maka bisa menjadi sentimen positif yang mendongkrak harga sahamnya.

Namun, Arjun menyarankan agar pelaku pasar tetap memperhatikan prospek industrinya, posisi valuasi, serta momentum teknikal dari saham tersebut. Dari sejumlah emiten yang akan menggelar rights issue atau private placement, Arjun menjagokan INCO dan NCKL dengan target harga masing-masing di Rp 4.500 dan Rp 995.

Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto punya catatan serupa bahwa seringkali rights issue membuat harga saham turun terlebih dulu, karena pergerakannya akan mengacu pada harga pelaksanaan. Dus, pelaku pasar bisa mencermati peluang buy on weakness atau cicil beli saat terjadi koreksi.

Sebagai rekomendasi, William menyodorkan saham INCO, NCKL dan PMMP. Sukarno menilai saham INCO dan SDRA layak sebagai pilihan koleksi untuk jangka panjang. Sedangkan Thoriq mengamati saham nikel INCO dan NCKL menarik untuk koleksi jangka menengah.

Thoriq mempertimbangkan performa fundamental kedua emiten nikel tersebut yang masih cukup apik. Rekomendasi Thoriq, buy INCO pada area Rp 4.170, target harga Rp 4.460 dan stoploss di Rp 4.040. Kemudian buy NCKL pada area Rp 900 - Rp 905, target harga Rp 1.015 dan stoploss di Rp 875.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×