Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) melaporkan inflasi headline (CPI) tercatat sebesar 3,4% secara year on year (yoy) pada Juli 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,5% pada Juni.
Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,5% yoy, dibandingkan 2,6% pada bulan sebelumnya.
Realisasi inflasi headline dan inti tersebut sesuai dengan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan inflasi headline sebesar 0,1% secara month on month (mom) dan 3,4% yoy, serta inflasi inti sebesar 0,2% mom dan 2,5% yoy.
Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe mengatakan per pagi ini, indikator global menunjukkan sentimen mixed dengan kecenderungan positif.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.877, Inflasi AS Jadi Penentu Begini Proyeksi Kamis (13/8)
Harga minyak Brent diperdagangkan di level US$ 88,4 per barel atau lebih rendah 0,61% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Indeks dolar (DXY Index) menguat sebesar 0,14% menjadi 100,0 namun yield US Treasury (UST) turun dibandingkan hari sebelumnya.
Yield curve UST 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 1 basis poin (bp) dan 2bp menjadi 4,38% dan 4,68%. Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia turun sebesar 1bp menjadi 88bp.
Amir bilang, dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi potensi demand bagi SBN rupiah namun yield yang diminta masih akan sensitif terhadap perkembangan global dan kondisi likuiditas domestik.
“Berdasarkan valuasi yield curve, kami memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor yakni FR0064, FR0101, FR0104, FR0087, FR0109,” ujar Amir dalam risetnya pada Kamis (13/8/2026).
Seperti diketahui, harga instrumen Surat Utang Negara (SUN) ditutup mixed pada sesi perdagangan kemarin (12/8).
Baca Juga: Rupiah Melemah Menjadi Rp17.877, Pasar Waspadai Geopolitik dan Inflasi AS
Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) turun sebesar 4 basis point (bp) ke level 7,13%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) naik sebesar 1 bp ke level 7,19%.
Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) bertahan di level 7,24%. Level yield curve 10-tahun (GIDN10YR) masih berada di dalam weekly estimated range kami untuk minggu ini di kisaran 7,13%-7,42%.
Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp 16.9 triliun kemarin, lebih rendah dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 18.9 triliun.
PBS030 dan FR0109 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp 4,1 triliun dan Rp 2,8 triliun. Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp 6,8 triliun.
Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Teluk, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sebesar 0,09%, bergerak dari level Rp 17.861 per dolar AS di hari Selasa menjadi Rp 17.877 per dolar AS kemarin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
