Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) melaporkan inflasi headline (CPI) tercatat sebesar 3,4% secara year on year (yoy) pada Juli 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,5% pada Juni.
Angka inflasi ini berdampak pada ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, yang kemudian berdampak pada minat investor terhadap obligasi di emerging market seperti di Indonesia.
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky mengatakan, angka inflasi AS tersebut masih di atas target The Fed yakni 2%. Ia melihat angka inflasi tersebut masih membuka kemungkinan bank sentral AS menahan suku bunga yang tinggi atau bisa jadi menaikkannya.
Awalil menyebut surat berharga negara (SBN) dengan yield tinggi saat ini tak diminati investor asing. Sebab yield US treasury dan suku bunga Jepang dinilai lebih menarik bagi investor.
Baca Juga: GOTO Keluar dari Indeks MSCI, Simak Penjelasan Analis
“Indonesia menjadi kurang menarik. Tentu ada aspek ketidakpastian dan country risk Indonesia,” ujar Awalil kepada Kontan, Kamis (13/8/2026).
Awalil menilai investor asing lebih berminat pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau memegang SBN yang jatuh temponya tidak terlalu lama (jangka pendek). Menurutnya, jika yang menyerap SBN hanya investor domestik, maka akan menekan sektor riil serta perebutan dana domestik.
“Yield SBN 10 tahun akan sulit turun di bawah 7%,” terang Awalil.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mencatat sepanjang 2026 hingga awal Agustus, arus modal ke SBN masih tercatat keluar sekitar US$ 4,12 miliar. Sementara arus modal ke SRBI justru masuk sekitar US$ 9,41 miliar. Ini perlu dicermati secara lebih kritis karena gambaran arus modal secara keseluruhan sebenarnya lebih baik daripada arus ke SBN. Sebab itu, nilai tukar rupiah dan arus modal asing menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan prospek SBN ke depan.
“Jadi, dana asing memang masuk ke Indonesia, tetapi sebagian besar memilih instrumen BI berjangka lebih pendek daripada SBN,” jelas Josua saat dikonfirmasi Kontan, Kamis (13/8/2026).
Josua mencatat posisi SRBI sendiri telah mencapai sekitar Rp 1.059 triliun pada awal Agustus, meningkat sekitar Rp 328 triliun sejak awal tahun. Ini penting karena SRBI menjadi pesaing SBN dalam menarik dana investor.
“Selama imbal hasil SRBI tetap menarik dan ketidakpastian tinggi, investor asing mempunyai alasan untuk tetap memilih instrumen yang lebih pendek daripada mengambil risiko harga pada SBN berjangka panjang,” jelas Josua.
Baca Juga: GOTO Keluar dari MSCI, tetapi Masih Bertahan di Indeks Utama BEI
Portfolio Manager, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Laras Febriany mengatakan, stabilitas rupiah sangat penting karena menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing dalam masuk kembali ke pasar SBN. Jika rupiah dapat bergerak lebih stabil, maka premi risiko dapat menurun dan daya tarik obligasi Indonesia akan kembali meningkat.
“Kita berharap kondisi stabilitas ini dapat konsisten berlanjut,” ucap Laras saat dikonfirmasi Kontan, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, rupiah mulai menunjukkan tanda stabilisasi, dalam artian bahwa pelemahan tidak lagi berlangsung secara akseleratif. Namun stabilitas ini perlu dilihat dengan hati-hati karena dinamika global yang masih sangat dinamis. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia yang berperan sebagai bantalan juga masih relatif rendah dibandingkan posisi sebelumnya.
“Posisi neraca transaksi berjalan pun serupa, diperkirakan kondisi defisit akan terus terjadi sampai akhir tahun walaupun sepertinya periode tersulit telah terlewati di kuartal kedua lalu,” ujar Laras.
Selain itu, Laras menyebut pasar masih akan mencermati kesinambungan kebijakan, terutama terkait pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI). Bagi pasar obligasi, kredibilitas dan konsistensi kebijakan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor. Ruang pengetatan tambahan juga sudah mulai terbatas, dan dapat membuat BI menghadapi kondisi yang dilematik jika ke depannya rupiah mendapat tekanan pelemahan lanjutan.
Baca Juga: Review MSCI Indonesia Agustus 2026 Cerminkan Masalah Kualitas Likuiditas
“Daya tarik obligasi Indonesia terutama berasal dari valuasi relatif yang semakin kompetitif,” kata Laras.
Laras menilai, jika dibandingkan dengan negara-negara berperingkat setara, imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang ditawarkan Indonesia – dan selisihnya dengan obligasi negara Amerika Serikat (US Treasury) tenor yang sama – secara relatif sangat menarik. Hal ini tercermin dari arus dana investor asing di bulan Juni – Juli yang mulai kembali masuk ke pasar SBN. Ini menunjukkan bahwa pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memiliki kompensasi risiko yang lebih menarik.
“Namun kami tetap menekankan bahwa daya tarik valuasi perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang berkesinambungan, karena faktor seperti harga energi, arah kebijakan BI, kondisi fiskal, dan sentimen global masih dapat membebani sentimen investasi,” jelas Laras.
Laras menyebut terdapat beberapa risiko yang harus dicermati oleh investor obligasi. Pertama adalah risiko eksternal dari volatilitas harga minyak dan hubungannya dengan potensi inflasi. Jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dan neraca eksternal dapat meningkat.
Kedua, iklim suku bunga global, terutama jika The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama dari ekspektasi pasar. Ketiga adalah risiko domestik terkait konsistensi kebijakan, kredibilitas dan independensi BI, kedisiplinan fiskal, dan outlook sovereign rating.
Keempat, investor juga tidak boleh mengabaikan perkembangan review MSCI. Walaupun isu ini lebih terkait pasar saham, dampaknya terhadap sentimen investor asing terhadap Indonesia secara keseluruhan tetap perlu dicermati.
“Kita harapkan perpanjangan interim freeze MSCI hingga November memberi waktu bagi regulator untuk terus melanjutkan pembenahan, dan transformasi pasar modal yang lebih transparan dapat menjadi faktor positif bagi persepsi investor terhadap keseluruhan pasar modal Indonesia,” imbuh Laras.
Awalil memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun di kisaran 7,5% hingga akhir tahun 2026. Sementara Josua memprediksi yield SBN tenor 10 tahun sekitar 7,36% pada akhir tahun 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
