kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Sahamnya Masuk Kategori Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Emiten Audiensi dengan BEI


Senin, 18 Mei 2026 / 17:46 WIB
Sahamnya Masuk Kategori Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Emiten Audiensi dengan BEI
ILUSTRASI. Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik (KONTAN/Rashif Usman)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dikabarkan mulai menempuh jalur audiensi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pihaknya telah menerima sejumlah surat permohonan diskusi dari emiten berstatus HSC dan seluruhnya ditindaklanjuti oleh bursa.

"Kami menerima beberapa surat permintaan untuk diskusi dan semuanya kami layani dengan baik," kata Jeffrey di gedung BEI, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Pendapatan Berulang Jadi Penopang, Analis Rekomendasikan Beli Saham Pakuwon (PWON)

Sayangnya, Jeffrey tidak mengungkapkan secara rinci emiten mana saja yang telah melakukan pertemuan dengan BEI terkait status HSC tersebut. 

"Sudah ada satu atau dua (emiten) sebelumnya (sudah komunikasi). Tapi semua yang meminta diskusi tentu kami layani dengan baik," tambahnya. 

Di sisi lain, Jeffrey menyebut hingga saat ini belum ada emiten berstatus HSC yang melakukan aksi korporasi guna meningkatkan porsi saham beredar atau free float di publik. Selain itu, BEI juga belum menerima permohonan dari emiten untuk melakukan screening ulang atas status HSC emiten.

Jeffrey menambahkan, bursa juga tidak menetapkan target waktu tertentu bagi emiten untuk memperbaiki struktur kepemilikan sahamnya.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham TLKM, BBRI, RAJA untuk Selasa (19/5)

Untuk informasi tambahan, HSC merupakan kondisi ketika kepemilikan saham suatu emiten terlalu terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu sehingga jumlah saham yang beredar di publik menjadi terbatas. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi likuiditas perdagangan dan menyulitkan investor institusi besar, terutama investor yang mengikuti indeks global atau index tracking investor.

Adapun saham yang masuk kategori HSC, antara lain , PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Rockfields Properti Indonesia (ROCK), PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) dan PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×