Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) mulai terkoreksi setelah sempat melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Kamis (1/10/2026) hingga pukul 09.10 WIB, saham SEMA turun 12,13% ke level Rp 418 per saham.
Koreksi tersebut terjadi setelah saham SEMA sebelumnya mencatat penguatan signifikan. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, harga saham SEMA sempat melonjak sekitar 81%.
Pergerakan saham SEMA terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kontrak baru perseroan untuk proyek data center CGK5 dan CGK7. Semacom sebelumnya mengungkapkan telah memperoleh kontrak pengadaan untuk kedua proyek tersebut, yang dikembangkan sebagai fasilitas hyperscale data center di Kawasan Industri Suryacipta, Subang, Jawa Barat.
Baca Juga: Semacon (SEMA) Dapat Kontrak Panel Listrik Data Center, Saham Naik 24,85%
Di tengah pergerakan saham tersebut, manajemen Semacom kembali memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kontrak yang disebut sebagai kontrak penting tersebut.
Direktur Utama Semacom Integrated Rudi Hartono Intan dalam keterbukaan informasi di BEI pada Kamis (30/9/2026)mengatakan, kontrak CGK5 dan CGK7 merupakan kerja sama komersial murni. Perusahaan ini ditunjuk sebagai pemasok Power Train Unit (PTU) dan SKID, sementara tidak terdapat hubungan afiliasi antara Semacom dan pihak pemberi kerja.
"Penandatanganan kontrak ini akan menambah portofolio perusahaan di sektor infrastruktur data center, yang sejalan dengan strategi diversifikasi usaha perseroan dari manufaktur panel listrik ke sektor energi dan digital infrastruktur," kata Rudi dalam keterbukaan informasi.
Semacom menjelaskan identitas pemberi kerja, nilai kontrak, serta sejumlah rincian teknis dan komersial tidak dapat dipublikasikan secara terbuka karena terikat perjanjian kerahasiaan atau Non-Disclosure Agreement (NDA).
Meski demikian, Rudi menegaskan perusahaan siap berkoordinasi dengan BEI dan regulator untuk menyampaikan informasi yang bersifat tertutup tersebut melalui mekanisme yang sesuai.
Semacom juga menekankan bahwa lingkup pekerjaannya dalam proyek CGK5 dan CGK7 tidak mencakup seluruh infrastruktur data center. Perusahaan ini hanya mengerjakan bagian tertentu dari kebutuhan kelistrikan, yakni penyediaan PTU dan SKID.
PTU merupakan sistem terintegrasi hasil fabrikasi yang menggabungkan sejumlah komponen, mulai dari kelistrikan, sistem pendingin hingga proteksi kebakaran dalam satu unit kontainer siap pakai.
Sementara SKID merupakan rangka dasar berbahan baja yang digunakan untuk mengintegrasikan berbagai komponen infrastruktur, termasuk panel switchboard dan modul pendukung lainnya, sebelum dikirim ke lokasi proyek.
Baca Juga: Lanjutkan Penguatan, Cek Profil Saham SEMA, Lini Bisnis, dan Kinerja Terbarunya
Pelaksanaan pengiriman dan pengujian akan dilakukan berdasarkan milestone yang telah disepakati dalam kontrak.
Manajemen menyebut proyek ini sebagai kontrak penting karena nilai kontrak, skala pekerjaan, serta relevansinya terhadap strategi pengembangan usaha Semacom dalam jangka menengah dan panjang.
Namun, Semacom mengingatkan bahwa nilai kontrak tidak serta-merta mencerminkan besarnya laba yang akan diperoleh.
Realisasi pendapatan, laba bersih dan arus kas akan berlangsung secara bertahap mengikuti perkembangan pekerjaan di lapangan, proses pengujian dan penerimaan pekerjaan, biaya pengadaan serta pengelolaan modal kerja.
Untuk memberikan konteks mengenai skala industri tanpa membuka informasi kontrak yang bersifat rahasia, Semacom turut melampirkan sejumlah data pembanding industri per 30 September 2026.
Perusahaan ini mencatat kapasitas daya TI sejumlah fasilitas data center di Indonesia, antara lain DCI E2 di Surabaya sebesar 9 MW, STT Jakarta 1 di Bekasi 18 MW, DCI JK6 di Cibitung 36 MW dan NTT Jakarta 3 di Bekasi 45,6 MW.
Semacom juga menggunakan Regional Construction Cost Index dari Cushman & Wakefield per 1 April 2026 sebagai benchmark biaya konstruksi data center di Asia Tenggara.
Untuk Indonesia, biaya konstruksi diperkirakan berada pada kisaran US$ 6,6 juta-US$ 11,2 juta per MW, dengan angka tengah US $8,3 juta per MW.
Dengan menggunakan kurs JISDOR Bank Indonesia sebesar Rp 17.877 per dolar AS pada 30 September 2026, Semacom memberikan ilustrasi biaya konstruksi hipotetis.
Untuk fasilitas berkapasitas 10 MW, misalnya, estimasi biaya berdasarkan benchmark tersebut berada di kisaran Rp 1,18 triliun hingga Rp 2 triliun. Sementara fasilitas 20 MW berkisar Rp 2,36 triliun-Rp 4 triliun dan 30 MW sekitar Rp 3,54 triliun-Rp 6,01 triliun.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.908 Per Dolar AS Hari Ini (1/10), Seluruh Asia Turun
Untuk fasilitas 50 MW, simulasi biaya berada pada kisaran Rp 5,90 triliun hingga Rp 10,01 triliun, dengan nilai tengah sekitar Rp 7,42 triliun.
Semacom menegaskan angka tersebut hanya merupakan simulasi berdasarkan benchmark industri dan bukan estimasi biaya aktual maupun nilai kontrak CGK5 dan CGK7.
Perusahaan ini juga menjelaskan bahwa satuan MW dalam konteks data center mengacu pada daya TI, bukan kapasitas penyimpanan. Pada fasilitas 30 MW, misalnya, jumlah rak yang dapat ditampung akan bergantung pada densitas daya per rak.
Dengan asumsi konsumsi 10 kW per rak, kapasitas 30 MW setara dengan sekitar 3.000 rak. Jika kebutuhan daya mencapai 20 kW per rak, jumlahnya menjadi sekitar 1.500 rak. Pada 50 kW per rak, setara sekitar 600 rak, sedangkan pada 100 kW per rak sekitar 300 rak.
Penjelasan tersebut juga menggambarkan meningkatnya kebutuhan daya untuk beban kerja kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), yang membutuhkan infrastruktur dengan densitas daya lebih tinggi.
Perhitungan tidak memasukkan estimasi terpisah untuk pembelian server/GPU dan tidak menyesuaikan lahan, biaya pemilik, utilitas, pajak, atau pendanaan suatu proyek tertentu. Karena ruang lingkup komponen tersebut belum disetarakan, hasilnya tidak dipresentasikan sebagai seluruh biaya investasi fasilitas berikut perangkat komputasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














