Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) hingga perdagangan Rabu 14 Oktober 2026 tren menguat selama sepekan terakhir. Kenaikan harga berlangsung di tengah masuknya dana asing. Lalu, investor ritel sebaiknya ikut beli atau jual jika sudah punya saham rokok ini?
Harga saham HMSP pada akhir perdagangan Rabu (14/10) di Rp 645, sama seperti sehari sebelumnya. Namun selama perdagangan lima hari terakhir, harga saham HMSP naik 3,20% dan sekitar 4% dalam seminggu.
Selama lima hari terakhir, pasar saham domestik tertekan, terindikasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 3,44% ke level Rp 5.943,02.
Kenaikan harga saham HMSP ini terjadi di tengah aksi beli bersih (net buy) investor asing selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan data transaksi, investor asing membukukan net buy saham HMSP sebesar Rp 4,23 miliar pada 9 Oktober 2026. Aksi beli berlanjut pada 12 Oktober dan 13 Oktober 2026, masing-masing senilai Rp 8,37 miliar dan Rp 6,44 miliar.
Dengan demikian, akumulasi net buy asing selama tiga hari perdagangan tersebut mencapai Rp 19,04 miliar.
Baca Juga: Harga Mendaki, Komisaris & Dirut JECX Jual 210.000 Saham, Pengendali Borong 14 Juta
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penguatan saham HMSP berpotensi ditopang kombinasi faktor valuasi, ekspektasi perbaikan fundamental, serta rotasi portofolio investor ke saham berkarakter defensif.
Dari sisi valuasi, saham HMSP berpotensi menarik apabila harga pasar belum sepenuhnya mencerminkan peluang pemulihan profitabilitas perusahaan.
"Stabilitas kebijakan cukai hasil tembakau dapat meningkatkan ekspektasi investor terhadap kemampuan perusahaan menjaga margin keuntungan," ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).
Meski demikian, menurut dia, aksi beli asing dalam jangka pendek belum cukup untuk memastikan pembalikan tren harga saham secara berkelanjutan. Investor perlu mencermati volume transaksi, valuasi relatif, kinerja keuangan, dan kemampuan perusahaan meningkatkan laba bersih.
Baca Juga: IHSG Rebound ke 5.943, Cek Saham Net Buy Terbesar Asing, Rabu (14/10)
Kinerja HMSP dan stabilitas cukai jadi perhatian
Dari sisi operasional, prospek HMSP hingga akhir 2026 akan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari pertumbuhan volume penjualan, bauran produk, harga jual rata-rata, hingga efisiensi biaya produksi dan distribusi.
Nafan mengingatkan bahwa kenaikan volume penjualan tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan laba. Peralihan konsumen ke produk rokok dengan harga lebih murah akibat tekanan daya beli berpotensi membatasi peningkatan profitabilitas perusahaan.
Karena itu, kemampuan HMSP mempertahankan kontribusi produk dengan margin keuntungan lebih tinggi menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Di sisi kebijakan, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau pada 2026 berpotensi memberikan sentimen positif bagi industri rokok, termasuk HMSP.
Stabilitas tarif cukai dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengatur strategi harga, menjaga daya saing produk, serta mengoptimalkan efisiensi operasional.
Namun, dampak kebijakan tersebut terhadap kinerja perusahaan tetap bergantung pada struktur biaya, respons konsumen, dan perkembangan persaingan di industri hasil tembakau.
Tonton: Tugas Berat Dirut Baru PLN! Presiden Perintahkan Bertransformasi, Kebut Target 100 GW Panel Surya
Perubahan lapisan cukai berpotensi memengaruhi persaingan
Selain tarif cukai, rencana penambahan lapisan tarif cukai dari delapan menjadi sembilan lapisan juga menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.
Dampaknya terhadap HMSP akan bergantung pada desain kebijakan final dan posisi produk perusahaan dalam struktur tarif yang berlaku.
Apabila perubahan struktur tarif menciptakan persaingan yang lebih seimbang, HMSP berpotensi memperoleh manfaat. Sebaliknya, perusahaan masih menghadapi risiko peralihan konsumen ke rokok berharga lebih murah, tekanan daya beli, dan peredaran rokok ilegal.
Dengan demikian, stabilitas kebijakan cukai dapat menjadi salah satu katalis bagi kinerja HMSP hingga 2027. Namun, besarnya pengaruh terhadap margin keuntungan dan pangsa pasar masih bergantung pada implementasi kebijakan pemerintah serta strategi komersial perusahaan.
Tonton: Integrasi Asuransi dan BPJS, Bisakah Biaya Berobat Lebih Terkendali?
Prospek saham HMSP hingga 2027
Nafan menilai HMSP berpeluang mencatatkan perbaikan kinerja hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Peluang tersebut akan semakin terbuka apabila stabilitas kebijakan cukai diikuti pemulihan volume penjualan, penguatan daya beli masyarakat, dan peningkatan efisiensi operasional.
Dari sisi fundamental, investor perlu memantau pertumbuhan pendapatan, margin laba kotor, laba bersih, arus kas operasional, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pembagian dividen.
Sementara dari sisi pergerakan saham, valuasi yang menarik dan prospek pemulihan profitabilitas berpotensi meningkatkan minat investor terhadap HMSP. Namun, keberlanjutan penguatan harga tetap perlu dikonfirmasi melalui perkembangan arus dana asing dan perbaikan kinerja keuangan.
Risiko persaingan harga, perubahan preferensi konsumen, serta tekanan biaya juga masih perlu diperhitungkan dalam menentukan strategi investasi.
Oleh karena itu, Nafan menyarankan investor untuk bersikap wait and see terhadap saham HMSP.
Menurut dia, investor sebaiknya tidak hanya menjadikan kenaikan harga saham sebagai dasar pengambilan keputusan, tetapi juga menunggu konfirmasi dari laporan keuangan terbaru dan keberlanjutan pertumbuhan laba perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














