kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Indeks Saham Bahan Baku Terseret Gejolak Pasar, Simak Rekomendasi dari Analis


Selasa, 09 Juni 2026 / 19:24 WIB
Indeks Saham Bahan Baku Terseret Gejolak Pasar, Simak Rekomendasi dari Analis
ILUSTRASI. IHSG ditutup melemah ke posisi 5.941 (ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak yang melanda pasar saham Indonesia jelas berdampak pada kinerja sejumlah indeks sektoral, tak terkecuali indeks saham bahan baku atau IDX Basic Materials yang selama ini kerap menjadi indeks sektoral unggulan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Basic Materials telah tergerus 24,20% year to date (ytd) ke level 1.560,126 hingga Selasa (9/6/2026). Dalam sebulan terakhir, kinerja indeks sektoral ini merosot 22,72%.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan, penurunan kinerja indeks saham bahan baku disebabkan oleh beberapa faktor. Mulai dari efek rebalancing MSCI-FTSE, penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat kredit global, sampai yang paling utama adalah berkurangnya kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia.

Sektor bahan baku yang seharusnya menjadi tulang punggung ketika harga komoditas masih cukup baik justru menjadi salah satu pemberat karena investor banyak melakukan aksi jual. Hal ini terjadi lantaran adanya kekhawatiran terhadap arah kebijakan baru yang berpotensi berdampak terhadap kinerja emiten, seperti isu tarif royalti, kebijakan ekspor satu pintu, hingga risiko regulasi lainnya.

“Jadi tekanannya bukan hanya dari faktor fundamental, tetapi lebih karena kombinasi outflow asing, risk off pasar, dan naiknya regulatory risk premium,” ujar dia, Selasa (9/6/2026).

Baca Juga: Saham-Saham Ini Bakal Jadi Unggulan dari Sektor Bahan Baku

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menimpali, penurunan harga saham TPIA (-72,56%) dan BRPT (-47,96%) yang signifikan sejak awal tahun cukup memengaruhi kinerja IDX Basic Materials, mengingat keduanya merupakan konstituen terbesar indeks sektoral tersebut. Kedua saham tersebut terseret sentimen eksklusi MSCI dan isu konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau high shareholder concentration (HSC).

Indeks ini juga terpapar oleh sentimen kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA) satu pintu dan harga patokan mineral (HPM) baru yang menciptakan ketidakpastian margin emiten pertambangan. Belum lagi, anjloknya rupiah ke level Rp 18.000 per saham turut menaikkan biaya impor bahan baku bagi emiten-emiten di sektor ini.

“MSCI atau FTSE menjadi pemicu, tapi country risk premium yang melebar adalah penyebab strukturalnya,” kata dia, Selasa (9/6/2026).

Wafi melanjutkan, ruang pemulihan bagi indeks saham bahan baku masih terbuka namun tidak seragam. Hal ini didukung oleh harga komoditas global yang masih berada dalam tren positif, seperti emas, batubara, dan nikel. Katalis lain yang dapat mendorong penguatan saham-saham bahan baku adalah konfirmasi MSCI pada 24 Juni 2026 nanti bahwa Indonesia tetap berstatus emerging market, kejelasan regulasi ekspor SDA, dan normalisasi rupiah.

Baca Juga: MSCI Umumkan Rebalancing Index Periode Mei, Begini Efeknya ke IHSG

Konstituen paling menarik dari IDX Basic Materials untuk saat ini menurut Wafi adalah TPIA, karena Enterprise Value (EV) to EBITDA di kisaran 4—5 kali atau lebih rendah dari pesaing regionalnya yang ada di kisaran 7—9 kali. Saham BRPT juga tetap punya daya tarik berkat lonjakan laba bersih pada kuartal I-2026 dan posisi free float yang sudah aman di level 26,7%. 

Berikutnya ada saham ANTM yang berpotensi jadi unggulan dari sektor bahan baku karena didukung oleh diversifikasi komoditas emas, nikel, dan alumina sebagai buffer terhadap risiko regulasi. Ada pula saham BSSR yang bisa jadi pertimbangan lantaran price to book value (PBC) di level 0,55 kali, debt to equity ratio (DER) nyaris nol, dan arus kas kuat.

“Sektor ini tetap menarik untuk investor jangka menengah yang toleran terhadap volatilitas,” tutur dia.

Di lain pihak, Ekky menyebut, selama harga komoditas masih relatif baik dan ada penyesuaian kebijakan pemerintah yang lebih ramah terhadap pasar, maka kinerja saham-saham sektor bahan baku berpotensi pulih. Tidak menutup kemungkinan pula banyak investor yang akan kembali masuk dan memburu saham-saham di sektor tersebut.

Baca Juga: Rebalancing MSCI: Indofood (INDF) Terdepak dari MSCI Global Standard Index

“Namun, pemulihannya kemungkinan tetap bertahap dan selektif, karena investor masih akan menunggu kepastian regulasi, stabilisasi rupiah, dan arah arus dana asing,” jelas dia.

Secara valuasi, beberapa saham bahan baku memang sudah jauh lebih menarik setelah terjadi koreksi besar. Namun, investor harus tetap selektif karena sektor ini sangat sensitif terhadap harga komoditas, regulasi, dan sentimen eksternal. Investor pun disarankan fokus ke saham bahan baku yang punya neraca cukup kuat, katalis kinerja jelas, dan valuasi yang sudah murah.

Ekky menjagokan saham-saham seperti ANTM, TINS, MDKA, dan INCO dengan rekomendasi buy on weakness. Target harga saham ANTM ada di kisaran Rp 3.000-Rp 3.500 per saham, sedangkan TINS ada di level Rp 3.600 per saham dengan target lanjutan sekitar level Rp 3.900-Rp 4.000 per saham. Berikutnya, saham MDKA ditargetkan menyentuh level Rp 2.800-Rp 3.000 per saham serta saham INCO ditargetkan mampu menembus level Rp 5.000-Rp 5.100 per saham. Semua target tersebut dinilai Ekky lebih realistis jika terjadi rebound teknikal yang kuat.

Dari daftar saham unggulan tersebut, Ekky menganggap ANTM dan TINS paling menarik untuk investor yang mencari kombinasi fundamental dan sentimen komoditas. Di sisi lain, saham MDKA dan INCO lebih cocok untuk investor yang siap menerima volatilitas lebih tinggi.

Baca Juga: Tiga Emiten RI Masuk Global Junior Gold Miners Index, Apa Dampaknya?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×