kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.101   5,00   0,03%
  • IDX 6.131   -55,20   -0,89%
  • KOMPAS100 800   -7,14   -0,88%
  • LQ45 608   -4,53   -0,74%
  • ISSI 212   -1,96   -0,92%
  • IDX30 342   -2,78   -0,81%
  • IDXHIDIV20 423   -3,94   -0,92%
  • IDX80 91   -0,74   -0,80%
  • IDXV30 116   -0,67   -0,57%
  • IDXQ30 110   -0,83   -0,75%

Saham Emiten CPO Menanjak, Simak Prospek dan Rekomendasi Analis


Rabu, 29 Juli 2026 / 05:05 WIB
Saham Emiten CPO Menanjak, Simak Prospek dan Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Panen kelapa sawit (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham sejumlah emiten kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) tercatat menanjak dalam beberapa waktu terakhir.

Tengok saja, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 10,08% dalam sebulan terakhir. Kemudian, dalam sebulan belakangan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) naik 9,06%, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 21,45%, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) 29,48%, dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 20,18%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia Abida Massi Armand menjelaskan, ada tiga katalis utama berjalan bersamaan.

Yaitu, implementasi B50 efektif Juli 2026 yang menyerap CPO domestik secara signifikan dan mempersempit pasokan ekspor, harga CPO global yang solid di atas MYR 4.600 per ton didukung permintaan India dan China, serta pelemahan rupiah yang mengembangkan pendapatan ekspor dalam denominasi rupiah secara otomatis.

Baca Juga: Kinerja Emiten CPO Terkerek Program B50, Cermati Saham Pilihanan Analis

“Kenaikan saham berpotensi berlanjut selama realisasi B50 berjalan sesuai rencana dan harga CPO global tetap di level saat ini,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, rally saham emiten sawit juga disebabkan oleh harga minyak Brent tembus US$ 100 barel yang membuat CPO sebagai alternatif energi lebih kompetitif.

Selama B50 berjalan lancar dengan pembayaran BPDPKS tepat waktu dan minyak masih tinggi, saham emiten sawit pun dilihat akan berlanjut terkerek. 

“Risiko reversal adalah jika terjadi gencatan senjata Iran-AS permanen yang bisa menurunkan harga minyak bumi ke US$ 75 - US$ 80 per barel yang bisa menekan CPO,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).

Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten Sawit Kala Harga CPO Terus Menguat dan Rekomendasi Analis

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, pengerek harga saham emiten CPO dalam beberapa waktu terakhir didorong oleh probabilitas tinggi El Niño dan kejelasan implementasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Pertama, prospek penguatan El Niño. Berdasarkan proyeksi NOAA, probabilitas terjadinya El Niño yang sangat kuat pada Oktober–Desember 2026 mencapai 81%, bahkan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950. 

Kondisi cuaca yang lebih kering diperkirakan akan menekan produktivitas perkebunan sawit, sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan harga CPO. 

“Secara historis, setelah periode El Niño, harga CPO cenderung meningkat sekitar 5–19% YoY pada tahun berikutnya,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (23/7/2026).

Kemudian, kejelasan implementasi DSI membuat diskon harga CPO Indonesia terhadap Malaysia menyempit menjadi sekitar 23% pada Juni 2026, dibandingkan 24% pada bulan sebelumnya.

Menurut Imam, selama ekspektasi terhadap penguatan harga CPO masih terjaga, terutama didukung El Niño dan implementasi B50, tren positif saham-saham CPO masih berpotensi berlanjut hingga paruh kedua 2026. 

Baca Juga: B50 Resmi Meluncur, Simak Prospek Kinerja dan Rekomendasi Saham Emiten CPO

“Namun, investor tetap perlu mencermati risiko perubahan regulasi maupun kondisi cuaca yang lebih ekstrem dari perkiraan,” katanya.

Abida menuturkan, prospek saham emiten CPO tetap konstruktif didukung realisasi penuh B50, pemulihan produksi pasca El Niño yang mendorong volume semester II 2026, dan harga CPO yang masih sangat tinggi. 

Saham emiten CPO juga masih menarik mengingat valuasi yang masih terdiskon dan katalis B50 yang belum sepenuhnya terdiskon di harga. 

“Emiten yang unggul hingga akhir 2026 adalah mereka dengan usia tanaman produktif, biaya produksi rendah, dan eksposur B50 tinggi melalui penjualan domestik,” tuturnya.

Wafi bilang, prospek kinerja saham emiten CPO ke depan masih konstruktif untuk emiten terintegrasi (refinery dan biodiesel plant) yang lebih mampu mengoptimalisasi rantai suplai.

Sentimen positif untuk emiten CPO ke depan adalah B50 yang mendorong permintaan domestik secara struktural dan harga minyak bumi yang menguat.

Sementara, sentimen negatif berasal dari perlambatan ekonomi global akibat Tarif Trump yang menekan permintaan minyak nabati, serta keterlambatan pembayaran BPDPKS yang secara historis sering terjadi dan menciptakan masalah arus kas. 

“Emiten jawara tahun ini kemungkinan emiten dengn kapasitas biodiesel terbesar dan track record subsidi yang baik,” ungkapnya.

Baca Juga: Emiten CPO Grup Salim Tebar Dividen, Cek Nilai dan Jadwalnya

Imam menuturkan, prospek sektor CPO hingga akhir 2026 masih relatif positif. Dari sisi fundamental, harga CPO diperkirakan akan menguat pada semester II 2026, didukung implementasi penuh B50 dan meningkatnya dampak El Niño. 

Walaupun dampak terbesar El Niño terhadap pembentukan tandan buah segar (TBS) umumnya baru terlihat dalam 12–18 bulan setelah kemunculannya, ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan pasokan sudah mulai menjadi sentimen positif sejak sekarang.

Selain itu, meskipun persediaan minyak sawit Malaysia naik pada Juni karena produksi tumbuh lebih cepat dibanding ekspor, persediaan tersebut diperkirakan akan kembali menurun seiring penurunan produksi akibat cuaca yang lebih kering. 

“Kondisi ini juga berpotensi menjaga keseimbangan pasar dan menopang harga CPO,” tuturnya. Imam merekomendasikan beli untuk TAPG dengan target harga Rp 2.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×