kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Kinerja Emiten BUMN Beragam, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya


Jumat, 10 April 2026 / 15:01 WIB
Kinerja Emiten BUMN Beragam, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Hasil kinerja emiten BUMN masih beragam sepanjang 2025. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil kinerja emiten BUMN masih belum rata sepanjang tahun 2025. Sejumlah emiten mencatatkan kinerja positif, sementara ada yang menderita kerugian yang semakin dalam.

Emiten pelat merah sektor komoditas terpantau memimpin sepanjang tahun lalu. Tengok saja, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengantongi laba bersih Rp 7,2 triliun di tahun 2025, naik 97,65% YoY dari Rp 3,64 triliun.

Dari sektor perbankan, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mengantongi laba bersih konsolidasi Rp 56,3 triliun sepanjang 2025. Capaian ini naik 0,93% secara tahunan atau year on year (yoy).  

Baca Juga: Aspirasi Hidup (ACES) Targetkan Pembukaan 25-30 Toko AZKO di Tahun 2026

Di sisi lain, PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) kompak membukukan kenaikan rugi bersih di 2025. WSKT membukukan rugi bersih Rp 3,92 triliun di 2025, naik 51,71% secara tahunan dari rugi bersih Rp 2,58 triliun di 2024. 

Lalu, rugi bersih PTPP bengkak ke Rp 6,07 triliun sepanjang 2025, naik 298,99% dari rugi Rp 1,52 triliun di tahun 2024. WIKA juga mencatatkan peningkatan rugi bersih 328,30% YoY ke Rp 9,7 triliun di tahun lalu.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand melihat, kinerja emiten BUMN di tahun 2025 relatif positif, namun tidak merata. 

Laba konsolidasi BUMN mencapai Rp332 triliun sepanjang 2025, namun 52% anak usaha masih merugi dengan opportunity loss Rp50 triliun, sehingga kinerja solid hanya bertumpu pada induk usaha besar. 

Sektor komoditas dan energi jadi juara, tercermin dari ANTM dan TINS yang masing-masing naik 111% dan 204% YTD, diuntungkan harga komoditas, narasi hilirisasi, dan transisi energi. 

“Bank BUMN dan TLKM lebih defensif dan moderat,” katanya kepada Kontan, Kamis (9/4/2026).

Baca Juga: Harga Emas Mulai Turun, Simak Prospek dan Strategi Investasi

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi melihat, kinerja emiten pelat merah di tahun 2026 masih bervariasi. Sektor perbankan tampil cukup unggul berkat solidnya pertumbuhan kredit serta efisiensi. 

“Sementara, sektor konstruksi (BUMN Karya) dan farmasi masih lesu karena tertekan restrukturisasi dan beban bunga utang,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (9/4/2026).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, secara agregat, kinerja BUMN membaik di sisi top line, namun tertekan pada bottom line. 

Jika melihat kinerja emiten konstituen IDXBUMN20, pendapatan mereka rata-rata naik 7% YoY, sementara laba rata-rata turun 9% YoY. 

“Artinya, pertumbuhan ada, tapi profitabilitas belum pulih penuh,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.

Sektor perbankan dilihat relatif stabil atau turun tipis, khususnya untuk BMRI dan BBRI. Ini didorong pendapatan kredit dan margin yang terjaga.

Lalu, emiten sektor komoditas emas dan nikel mengalami lonjakan laba signifikan, karena harga komoditasnya yang terkerek naik, khususnya pada ANTM. 

Sedangkan sektor yang mengalami pelemahan kinerja adalah sektor infrastruktur dan konstruksi (JSMR, PTPP, ADHI, dan TLKM) akibat tekanan biaya dan beban bunga.

“Serta sektor energi tertentu, khususnya PGAS, akibat penurunan margin,” ungkapnya.

Ke depan, kinerja emiten BUMN masih bisa membaik secara selektif. Ini utamanya jika didorong oleh peran aktif dari Danantara.

Abida mengatakan, Danantara menargetkan untuk merampingkan struktur dari 1.043 anak usaha menjadi 30 klaster strategis. Sovereign wealth fund Tanah Air ini juga memproyeksikan laba BUMN bisa naik menjadi Rp 380 triliun jika konsolidasi tersebut berjalan mulus. 

“Namun, pasar masih wait and see karena eksekusi belum terbukti,” ungkapnya.

Katalis yang bisa menarik investor asing untuk kembali masuk ke saham emiten BUMN adalah dorongan Danantara meningkatkan dividend payout ratio (DPR) bank himbara, sehingga memberikan visibilitas imbal hasil lebih menarik bagi investor global. 

“Kinerja indeks IDX BUMN20 pun berpotensi tumbuh double digit di 2026 jika Danantara konsisten. Potensi jawara di 2026 tetap bank BUMN dan ANTM,” tuturnya.

Wafi bilang, sektor perbankan dan telekomunikasi tetap yang paling unggul di tahun 2026. 

Peran Danantara juga bisa memberikan sentimen positif untuk konsolidasi aset, perbaikan tata kelola, dan efisiensi modal. Namun, dampaknya bersifat jangka panjang dan bukan solusi instan. 

“BUMN big caps, terutama perbankan akan selalu jadi proksi asing ke IHSG karena likuiditas dan kapitalisasi pasarnya yang besar,” tuturnya.

Wafi menyarankan investor untuk mencermati saham BMRI, BBRI, BBNI, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 7.200 per saham, Rp 6.000 per saham, Rp 6.000 per saham, dan Rp 3.500 per saham.

Sukarno melihat, peluang kinerja emiten BUMN di tahun 2026 diperkirakan membaik bertahap, dengan beberapa catatan.

Pertama, aksi efisiensi dan restrukturisasi lewat Danantara berpotensi positif, tapi efeknya tidak instan. Kedua, sektor perbankan tetap jadi tulang punggung di tahun ini.

Terakhir, sektor telekomunikasi dan infrastruktur berpotensi pulih jika rencana efisiensi berjalan lancar.

“Calon jawara di tahun 2026 berasal dari sektor perbankan besar, telekomunikasi, dan komoditas,” katanya.

Sukarno pun merekomendasikan beli untuk TLKM dengan target harga Rp 4.000 per saham. Investor juga disarankan Sukarno untuk mencermati saham MTEL dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 700 - Rp 735 per saham dan Rp 3.850 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×