kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Saham BBTN sudah turun 24,41% sejak awal tahun, begini rekomendasi analis


Senin, 21 Oktober 2019 / 20:49 WIB
ILUSTRASI. Pengunjung mengakses portal rumahmurah BTN di Kantor Pusat Bank BTN Jakarta, kamis (13/12/2018). Bank Tabungan Negara (BTN) optimistis tahun 2019 bisa menyalurkan pembiayaan KPR sebanyak 850.000 unit. Jumlah itu naik 100.000 unit dibandingkan target tahun


Reporter: Yasmine Maghfira | Editor: Noverius Laoli

Menurut Suria, langkah yang harus dilakukan BBTN untuk menumbuhkan CAR-nya adalah dengan menambahkan modal perusahaan. Ia menilai, aksi korporasi yang direncanakan BBTN sudah tepat karena itu yang memang diperlukan bank tersebut.

Berdasarkan catatan Kontan, BBTN  berencana melakukan sejumlah aksi korporasi dalam rangka menyiapkan implementasi PSAK 71. Demi mempersiapkan cadangan kerugian kredit, BBTN berencana menerbitkan surat utang berupa subdebt, sekuritisasi aset, pendirian anak usaha, dan rights issue tahun 2020.

Baca Juga: Orang dalam bobol dana nasabah Rp 58,95 miliar, BNI: Masyarakat jangan cemas

Aksi korporasi tersebut ditujukan untuk penambahan modal usaha Bank Tabungan Negara. Seperti subdebt, melalui penerbitan junior global bond senilai US$ 250 juta yang akan dieksekusi di awal tahun 2020. Serta penerbitan sukuk dengan kisaran dana Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun.

Kepala Riset Trimegah Sekuritas Sebastian Tobing juga mengungkapkan saham BBTN tertekan karena ketatnya likuiditas perbankan. Dari segi NIM turun dan akibatnya likuiditas bank menjadi ketat.

"Kalau likuiditas sulit, bank seperti BTN yang tidak memiliki funding franchise juga mengalami penurunan kinerja. Jadi, kinerja BTN jelek karena terdampak oleh situasi makro," papar Sebastian.  

Sebastian menambahkan apalagi jika labanya sulit untuk tumbuh maka investor makin malas untuk melirik BBTN.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×