Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) bulan September pada Rabu (23/9/2026).
Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 17.884 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (22/9/2026), melemah 0,21% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.847 per dolar AS.
Sejalan, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup di level Rp 17.883 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,39% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.813 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen domestik yang masih memengaruhi pergerakan rupiah adalah keputusan Presiden Prabowo Subianto pekan lalu untuk mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara.
Selain pergantian Menkeu, pasar juga mencermati pembahasan revisi Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berpotensi membuka ruang bagi defisit anggaran yang lebih tinggi untuk mendanai program sosial dan kesejahteraan.
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp 17.900 Menjelang RDG BI, Cek Proyeksi dan Benteng Stabilisasi
Ibrahim menyebut Menkeu Suahasil telah menyatakan bahwa pembahasan mengenai batas atas defisit sebesar 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang diatur dalam undang-undang perlu berlangsung secara konstruktif. Sementara itu, batas rasio utang sebesar 60% terhadap PDB tetap menjadi acuan dalam pengelolaan APBN.
Dari sisi eksternal, kenaikan harga minyak turut menjadi tekanan bagi rupiah. Sebagai negara pengimpor energi, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Ibrahim memandang langkah BI dalam menjaga stabilitas rupiah menjadi perhatian pasar. Selain intervensi di pasar valuta asing, BI juga melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang lebih pro-market.
BI juga akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.
"Intervensi pun akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," jelas Ibrahim, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Rupiah Menyentuh Rp 17.884 Per Dolar AS Jelang RDG BI, Cek Sentimen dan Prospeknya
Menurut dia, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 146,5 miliar masih cukup untuk mendukung langkah intervensi BI di pasar.
Sementara dari eksternal, Ibrahim bilang agenda ekonomi AS pada pekan ini relatif lengang. Meski demikian, pasar tetap akan mencermati sejumlah data dan pernyataan pejabat bank sentral AS.
Beberapa data utama yang dinantikan mencakup data awal Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global serta Survei Sentimen Konsumen University of Michigan (UoM) untuk September.
"Pasar juga akan memantau serangkaian pernyataan dari para pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk terkini mengenai arah kebijakan di masa mendatang," kata Ibrahim.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (23/9) akan bergerak di kisaran Rp 17.880-Rp 17.930 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Pasar Menanti Sinyal BI di Tengah Penguatan Dolar AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














