Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
Sebaliknya, investor cenderung lebih selektif dalam menentukan instrumen yang memiliki kombinasi imbal hasil dan risiko yang sesuai.
“Data ini menunjukkan bahwa masalah pasar saham saat ini bukan kekurangan imbal hasil rupiah semata, melainkan kombinasi risiko kurs, tingginya imbal hasil global dan kehati-hatian investor terhadap laba perusahaan,” jelasnya.
Tekanan terhadap saham juga berpotensi meningkat apabila pelemahan rupiah membuat BI harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya pembiayaan sekaligus menekan valuasi saham.
Josua menilai dampaknya akan berbeda antar-emiten. Perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS serta ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor akan lebih rentan terhadap pelemahan rupiah.
Baca Juga: Fenomena Inverted Yield Curve Muncul, Arus Dana Lebih Banyak Mengalir ke SRBI
Sebaliknya, perusahaan berorientasi ekspor dengan penerimaan dalam dolar AS dan struktur biaya yang lebih banyak dalam rupiah relatif memiliki perlindungan alami terhadap pelemahan nilai tukar.
Selain itu, emiten yang sensitif terhadap biaya pembiayaan, seperti sektor properti, konsumsi barang tahan lama dan perusahaan dengan tingkat utang tinggi, berpotensi menghadapi tekanan apabila suku bunga domestik bertahan tinggi lebih lama.
Dengan kondisi tersebut, Josua memperkirakan peluang pemulihan pasar saham hingga akhir tahun masih terbuka. Namun, pemulihan tersebut berpotensi tidak berlangsung merata di seluruh sektor dan emiten.
Menurut dia, stabilitas rupiah menjadi salah satu prasyarat penting agar investor asing kembali meningkatkan eksposur di pasar saham Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Tertekan dan Yield SRBI Naik pada Awal Mei, Dibayangi Sentimen Global
“Saya lebih melihat arahnya sebagai pasar yang bergejolak dengan peluang pemulihan selektif, terutama pada perusahaan dengan neraca sehat, utang valuta asing rendah, arus kas kuat dan kemampuan menjaga margin,” kata Josua.
Karena itu, perkembangan rupiah, arah suku bunga dan yield obligasi pemerintah AS, harga minyak serta aliran dana asing menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati investor saham hingga akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












