kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.008   36,00   0,21%
  • IDX 7.022   -114,92   -1,61%
  • KOMPAS100 967   -21,57   -2,18%
  • LQ45 714   -14,61   -2,01%
  • ISSI 244   -4,92   -1,97%
  • IDX30 388   -4,33   -1,10%
  • IDXHIDIV20 485   -2,12   -0,43%
  • IDX80 109   -2,57   -2,31%
  • IDXV30 132   0,44   0,33%
  • IDXQ30 126   -0,69   -0,54%

Rupiah Sempat Tembus Rp 17.006 per Dolar AS, Ekonom: Kepercayaan Pasar Sedang Diuji


Senin, 16 Maret 2026 / 17:46 WIB
Rupiah Sempat Tembus Rp 17.006 per Dolar AS, Ekonom: Kepercayaan Pasar Sedang Diuji
ILUSTRASI. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS (TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus melanjutkan tekanan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian global.

Melansir data Bloomberg pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 16.997 per dolar AS atau melemah 0,23% dibandingkan penutupan Jumat (13/3/2026) yang berada di Rp 16.958 per dolar AS. 

Meski demikian, hari ini rupiah sempat jebol ke atas Rp 17.000 per dolar AS di tengah perdagangan. Pukul 12.30 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,28% ke level Rp 17.006 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan. Kondisi tersebut membuat fundamental rupiah terlihat masih tertekan dalam jangka pendek.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 16.997, Cermati Proyeksi dan Sentimen di Semester I-2026

Dari sisi eksternal, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai mendorong arus dana global mengalir ke aset yang lebih aman seperti dolar AS. Pergerakan ini turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel juga memperburuk situasi karena Indonesia masih sensitif terhadap tekanan energi, inflasi impor, dan kebutuhan valas,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Senin (16/3/2026).

Dari sisi domestik, pasar juga melihat ruang kebijakan ekonomi yang semakin terbatas. Inflasi pada Februari 2026 tercatat mencapai 4,76%, jauh di atas kisaran target Bank Indonesia (BI) yang berada di rentang 1,5%-3,5%.

Di saat yang sama, muncul pula kekhawatiran pasar terhadap sejumlah isu domestik, mulai dari independensi BI hingga sorotan terhadap kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah.

Selain itu, perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody's dan Fitch Ratings juga dinilai turut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap aset Indonesia.

Syafruddin menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu oleh penguatan dolar AS. Menurutnya, pasar juga tengah menilai ulang risiko Indonesia secara lebih luas.

“Dalam situasi seperti ini, level Rp 17.000 bukan lagi sekadar angka psikologis, tetapi mencerminkan bahwa kepercayaan pasar sedang diuji,” pungkasnya.

Baca Juga: IHSG Tergerus di Awal Pekan Pendek, Bisa Terus Turun ke Bawah 7.000?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×