Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street bergerak melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah harga minyak melonjak menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Memerah Kamis (21/5), Harga Minyak Melonjak akibat Ketegangan Iran
Melansir Reuters pukul 09.58 waktu setempat, indeks Dow Jones turun 24,51 poin atau 0,05% menjadi 49.987,34.
Sementara itu, S&P 500 melemah 22,83 poin atau 0,30% ke level 7.410,68 dan Nasdaq Composite turun 119,67 poin atau 0,46% menjadi 26.150,69.
Sebanyak tujuh dari sebelas sektor utama dalam indeks S&P 500 berada di zona merah, dipimpin sektor consumer staples yang turun 2,3%.
Baca Juga: PT PP (PTPP) Siapkan Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Suku Bunga
Sentimen pasar memburuk setelah laporan Reuters menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei memerintahkan agar stok uranium Iran yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir tidak dikirim ke luar negeri.
Kebijakan tersebut dinilai memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai antara Donald Trump dan Teheran.
Harga minyak mentah Brent melonjak 2,2% menjadi US$ 107,32 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melemah karena optimisme bahwa upaya diplomatik dapat meredakan ketegangan.
Baca Juga: Indika Energy (INDY) Fokus Diversifikasi Bisnis, Kinerjanya Positif di Kuartal I-2026
Namun laporan terbaru Reuters memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.
Kenaikan harga energi juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,609%.
Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran inflasi dan menekan pasar saham.
Saham Walmart anjlok 7,5% setelah peritel terbesar dunia itu mempertahankan target tahunan namun memberikan proyeksi laba kuartal kedua di bawah ekspektasi pasar.
Baca Juga: IHSG Jatuh Saat Mayoritas Bursa Asia Menguat, Ini Penyebabnya
Chief Investment Strategist CFRA Research Sam Stovall mengatakan, proyeksi Walmart memicu kekhawatiran investor bahwa dampak harga minyak tinggi dan inflasi mulai terasa terhadap konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, saham NVIDIA turun 0,6% meski perusahaan mengumumkan proyeksi pendapatan kuartal kedua yang positif serta program pembelian kembali saham senilai US$ 80 miliar.
Investor dinilai mulai mengkhawatirkan meningkatnya persaingan di sektor kecerdasan buatan (AI), baik dari perusahaan teknologi besar maupun produsen chip lain seperti Intel dan Advanced Micro Devices.
Pasar juga mencermati langkah SpaceX yang resmi mengajukan dokumen IPO pada Rabu (20/5).
Dokumen tersebut memberi gambaran awal mengenai besarnya investasi Elon Musk dalam pengembangan AI untuk transformasi bisnis SpaceX.
Dari sisi ekonomi, data klaim pengangguran mingguan AS menunjukkan jumlah pengajuan tunjangan pengangguran baru turun pekan lalu.
Baca Juga: PTPP Catat Nilai Kontrak Rp 6,88 Triliun per April 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya
Hal itu menandakan pasar tenaga kerja AS masih cukup solid dan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tetap fokus terhadap risiko inflasi.
Aktivitas manufaktur AS juga tercatat naik ke level tertinggi dalam empat tahun pada Mei, didorong peningkatan persediaan barang oleh pelaku usaha guna mengantisipasi potensi kelangkaan pasokan dan kenaikan harga akibat perang Iran.
Sementara itu, saham IBM naik 5,6% setelah pemerintahan Trump mengumumkan dukungan pendanaan kepada sejumlah perusahaan komputasi kuantum.
Saham perusahaan sektor quantum computing seperti GlobalFoundries naik 13%, D-Wave Quantum melonjak 24,8%, Rigetti Computing menguat 24,4%, dan Infleqtion melesat 39,8%.
Adapun saham Intuit ambles 20,5% setelah perusahaan memangkas proyeksi pendapatan tahunan perangkat lunak pajaknya, TurboTax, serta mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 17% karyawan tetapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













