kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.668   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.095   -223,56   -3,54%
  • KOMPAS100 805   -27,79   -3,34%
  • LQ45 616   -14,28   -2,26%
  • ISSI 214   -11,19   -4,97%
  • IDX30 352   -8,00   -2,22%
  • IDXHIDIV20 439   -9,68   -2,16%
  • IDX80 93   -3,02   -3,15%
  • IDXV30 121   -3,14   -2,53%
  • IDXQ30 115   -2,35   -2,00%

IHSG Anjlok Delapan Hari Beruntun, Awas Ada Potensi Jebol ke Bawah 6.000


Kamis, 21 Mei 2026 / 17:23 WIB
IHSG Anjlok Delapan Hari Beruntun, Awas Ada Potensi Jebol ke Bawah 6.000
ILUSTRASI. IHSG ditutup anjlok pada pekan ketiga Mei 2026 (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampaknya masih nyaman bertahan di zona merah. Ini terlihat dari IHSG yang terus melemah selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG longsor 223,55 poin atau 3,54% ke posisi 6.094,94.  Pelemahan IHSG kali ini terjadi di tengah penguatan sejumlah bursa Asia. Indeks Kospi (Korea Selatan), misalnya menguat 8,42% ke level 7.815, indeks Nikkei 225 (Jepang) melaju 3,14% ke 61.684 dan indeks Taiex (Taiwan) melesat 3,37% ke 41.368.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan ada sejumlah penyebab IHSG mengalami pelemahan. Pertama,  ketidakpastian kebijakan ekonomi dan pasar. Menurutnya, pasar saat ini cukup sensitif terhadap isu kebijakan baru, terutama terkait wacana pemusatan ekspor komoditas strategis melalui satu pintu BUMN atau Danantara. 

Baca Juga: Indocement (INTP) Akan Bagi Dividen Rp 1,53 Triliun dari Laba Tahun Buku 2025

"Investor khawatir terhadap potensi intervensi yang lebih besar terhadap mekanisme bisnis emiten komoditas," kata Alrich kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Penyebab kedua, outflow asing masih berlanjut. Investor asing cenderung melakukan risk reduction terhadap emerging market yang dianggap memiliki ketidakpastian lebih tinggi. Tekanan rupiah dan kekhawatiran terhadap arah fiskal serta pembiayaan program pemerintah juga turut memengaruhi persepsi risiko Indonesia. 

Ketiga, kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik. Pasar mulai melihat adanya pelemahan daya beli dan konsumsi masyarakat. Selain itu, pertumbuhan kredit dan sektor riil belum terlalu agresif untuk menjadi katalis baru IHSG. 

Keempat, valuasi beberapa saham berkapitalisasi besar sebelumnya sudah cukup premium. Saat sentimen negatif muncul, saham-saham yang sebelumnya menjadi motor penggerak IHSG seperti konglomerasi justru menjadi target profit taking. 

Kelima, tekanan pada sektor komoditas dan perbankan turut membebani pergerakan IHSG. Mengingat kedua sektor ini memiliki bobot besar dalam indeks, koreksi yang terjadi berdampak signifikan terhadap pelemahan IHSG secara keseluruhan.

Potensi Jebol ke Bawah 6.000

Alrich mengungkapkan saat ini IHSG menutup gap area 6.092 dan bertahan di atas area tersebut pada penutupan pasar hari ini (21/5). 

Selama tidak ada shock tambahan dari sisi global maupun kebijakan domestik, dan bertahan di atas 6.092, peluang IHSG untuk rebound masih terbuka ke pivot area 6.250. 

Baca Juga: Kenaikan BI Rate Berpotensi Menekan Penerbitan Obligasi Korporasi

Sebaliknya, jika masih terus melanjutkan pelemahan di bawah 6.000, ini kembali memberikan validasi bearish lanjutan ke critical support 5.900.

"Pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Jika muncul persepsi bahwa arah kebijakan pemerintah terlalu mengintervensi terhadap mekanisme pasar atau menimbulkan kekhawatiran terhadap iklim investasi, maka risk premium Indonesia bisa meningkat," tambah Alrich.

Ini juga berpotensi membuat investor asing menahan ekspansi atau bahkan mengurangi eksposur di pasar Indonesia yang dapat berdampak negatif ke mayoritas sektor yang ada Indonesia.

"Mudahnya, saat ini bisa dikatakan pelaku pasar sedang krisis kepercayaan terhadap kebijakan domestik," jelasnya.

Alrich juga memaparkan sejumlah sentimen yang bisa mengerek IHSG ke depan, antara lain stabilitas rupiah dan meredanya outflow asing, kejelasan arah kebijakan pemerintah terhadap pasar dan industri, penurunan tensi geopolitik global, potensi penurunan suku bunga global atau The Fed ke depan, kinerja emiten semester II yang lebih baik, serta masuknya kembali dana asing ke saham big caps perbankan dan komoditas 

Alrich menyarankan untuk investor melakukan pendekatan yang selektif dan defensif. Fokus pada saham dengan fundamental kuat, cash flow stabil, valuasi yang sudah relatif murah, serta emiten yang tidak terlalu sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan. 

Baca Juga: Produksi di Awal Tahun Rendah, Triputra Agro (TAPG) Ditopang Tingginya Harga CPO

Investor jangka pendek sebaiknya tetap disiplin risk management karena volatilitas market masih cukup tinggi.

Alrich memilih sejumlah saham yang dapat diperhatikan saat ini adalah emiten yang defensif atau cenderung stabil seperti consumer good, misalnya PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di target harga Rp 7.000 dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada level target harga Rp 1.980 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×