Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah kembali menghadapi tekanan di tengah tingginya imbal hasil obligasi global dan menguatnya dolar AS. Kondisi ini membuat ruang gerak mata uang Garuda semakin terbatas, sementara intervensi Bank Indonesia (BI) dinilai hanya mampu meredam volatilitas dalam jangka pendek.
Asal tahu saja, rupiah pada perdagangan Selasa (6/10) ditutup ke level Rp 17.899 per dolar AS atau menguat 0,10% secara harian. Padahal jika ditarik lebih jauh, nilai tukar rupiah pada awal tahun 2026 bergerak di kisaran Rp 16.700 -Rp 16.815 per dolar AS, sebelum kemudian mengalami tren pelemahan lebih lanjut sepanjang tahun.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, melihat tekanan terhadap rupiah saat ini merupakan kombinasi dari faktor eksternal yang semakin ketat.
Baca Juga: Bukit Uluwatu (BUVA) Berencana Right Issue Rp 1,53 Triliun, Ini Alokasi Dananya
“Tekanan yang melanda rupiah saat ini memang mencerminkan kombinasi berat dari faktor eksternal yang serba ketat (higher-for-longer global yields) dan transmisi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral utama dunia,” ujar Rahma kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).
Salah satu tekanan terbesar berasal dari imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang masih berada di level tinggi, yakni 5,27% atau menguat 30% YoY pada Selasa (6/10).
Ketika tingkat imbal hasil aset bebas risiko di AS berada pada level tinggi, arus likuiditas global berpotensi kembali mengalir ke instrumen berbasis dolar AS. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun ke 3,12% juga turut mengubah lanskap likuiditas global. Rahma berpandangan normalisasi kebijakan moneter Jepang yang meninggalkan era suku bunga ultra-rendah dapat mengurangi daya tarik strategi carry trade berbasis yen.
Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Pasar memperkirakan peluang sekitar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada FOMC berikutnya.
Alhasil, dolar AS masih berpeluang mempertahankan kekuatannya terhadap berbagai mata uang utama dan Asia. Toh, indeks dolar AS (DXY) saat ini sudah di level tinggi, yakni 101,9.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Rahma bilang rupiah seolah berada dalam posisi tanpa tameng yang memadai jika hanya mengandalkan instrumen pasif. Bank Indonesia (BI) menghadapi dilema dalam menjaga stabilitas rupiah.
Untuk menahan tekanan terhadap mata uang Garuda, kata Rahma, BI perlu mempertahankan atau bahkan memperketat suku bunga acuan serta mengoptimalkan instrumen moneter yang berorientasi pasar seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
"Namun, pengetatan ini berisiko menahan laju penyaluran kredit perbankan dan momentum pertumbuhan sektor riil,” ungkap Rahma.
Sementara itu, intervensi BI melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore NDF dinilai tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Meski demikian, Rahma menyebut instrumen tersebut lebih berfungsi sebagai peredam kejut jangka pendek atau smoothing volatility, tapi tidak bisa sepenuhnya melawan tren fundamental global yang dipengaruhi oleh pergerakan yield obligasi dunia.
Meski begitu Rahma mengatakan, perekonomian domestik masih memiliki sejumlah bantalan. Salah satunya berasal dari surplus neraca perdagangan yang secara historis dapat menopang ketersediaan devisa. Namun, bantalan tersebut mulai menghadapi tantangan dari volatilitas komoditas global dan tekanan impor musiman.
Selain itu, posisi cadangan devisa yang masih memadai memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk melakukan stabilisasi pasar secara terukur.
Dengan mempertimbangkan kondisi higher-for-longer suku bunga global serta fundamental domestik yang masih ditopang cadangan devisa dan surplus neraca perdagangan, Rahma memperkirakan rupiah akan menghadapi rentang pergerakan yang cukup lebar di sisa 2026.
Untuk sisi penguatan rupiah, area Rp 17.500-Rp 17.650 per dolar AS menjadi resistance terdekat.
Sementara itu, level Rp 17.900-Rp 18.100 per dolar AS menjadi level support dan zona krusial yang perlu diwaspadai.
Baca Juga: ETF Emas Tetap Prospektif di Tengah Ketidakpastian Markoekonomi, Ini Catatan Analis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













