Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) akan menambah modal lewat Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau right issue.
BUVA menawarkan 6.154.263.660 saham baru bernilai nominal Rp 50 per saham, sekitar 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah right issue. Harga pelaksanaannya Rp 250 per saham, sehingga dana yang masuk ke kas perusahaan mencapai Rp 1.538.565.915.000 atau Rp 1,53 triliun.
Dari sisi rasio HMETD, setiap pemegang 4 saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 15 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB berhak atas 1 HMETD, di mana setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak satu saham baru.
"Dilusi kepemilikan maksimal sekitar 20% setelah PMHMETD II," kata Corporate Secretary BUVA, Rian Fahmi di keterbukaan informasi, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Musim Dividen Interim Dimulai, Tiga Saham Ini Tawarkan Yield Menarik
PT Nusantara Utama Investama (NUI), pemegang saham pengendali dengan 15.034.031.772 saham atau 61,07%, memperoleh 3.758.507.943 HMETD. Berdasarkan surat pernyataan 21 Agustus 2026, NUI akan melaksanakan 3.474.507.943 HMETD dan mengalihkan 284.000.000 HMETD sisanya kepada PT Tata Tirta Datun (TTD).
TTD berkomitmen menebus seluruh HMETD yang dialihkan itu dan menyatakan memiliki dana yang cukup. Dengan demikian, seluruh HMETD milik NUI akan terserap.
Jika saham baru tidak seluruhnya diambil pemegang HMETD, sisanya lebih dulu dialokasikan secara proporsional kepada pemegang HMETD yang memesan melebihi haknya.
Apabila masih ada sisa saham, empat pembeli siaga wajib membelinya pada harga yang sama, antara lain:
Hapsoro: 389.038.738 saham atau sekitar Rp 97,26 miliar
Ferry Sudjono: 1.311.216.321 saham atau sekitar Rp 327,80 miliar
TTD: 1.606.350 saham atau sekitar Rp 401,59 juta
PT Henan Putihrai Sekuritas: 400.000.000 saham atau sekitar Rp 100 miliar
Alokasi Dana
Rian menjelaskan seluruh dana hasil right issue akan digunakan untuk modal kerja dan pembayaran kewajiban utang.
Penyertaan Modal BPP
Secara rinci, alokasi terbesar, Rp426,34 miliar, disalurkan BUVA ke PT Bukit Bali Permai (BBP) paling lambat triwulan IV 2026. BBP kemudian membaginya menjadi dua tahap.
Tahap pertama, sebanyak Rp199,26 miliar, dipakai mengambil alih saham PT Royal Uluwatu Residence (RUR) untuk memperluas portofolio grup di Uluwatu. Targetnya selesai paling lambat Desember 2026.
Tahap kedua, dana sebesar Rp227,08 miliar, berupa tambahan modal ke RUR paling lambat triwulan IV 2027. RUR akan memakainya untuk pengembangan lahan dan belanja modal konstruksi, termasuk infrastruktur serta sarana prasarana, dalam proyek yang disebut Pengembangan West Resort di Uluwatu. Pelaksanaannya bertahap dan ditargetkan rampung paling lambat triwulan IV 2029.
Pelunasan Utang Bank Mandiri
Alokasi dana Rp417,80 miliar dialokasikan untuk membayar lebih cepat seluruh pokok utang BUVA berdasarkan perjanjian pembiayaan dengan Bank Mandiri.
Renovasi Alila Ubud
Sebesar Rp150 miliar disiapkan untuk renovasi menyeluruh Alila Ubud, mencakup pembaruan interior dan eksterior serta peningkatan fasilitas penunjang. Pekerjaan dilakukan bertahap sejak dana diterima dan ditargetkan selesai paling lambat triwulan IV 2028.
Pengembangan Bintan Land
Dana Rp150 miliar akan disetorkan sebagai tambahan modal kepada PT Bukit Lagoi Villa (BLV) paling lambat triwulan IV 2026. BLV memakainya untuk belanja modal pembangunan dan pengembangan infrastruktur di kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan. Proyek ini bertahap dan ditargetkan selesai paling lambat triwulan IV 2029.
Pembangunan Uluwatu Estate
Dana Rp390,34 miliar masuk sebagai tambahan modal ke PT Bukit Permai Properti (BKPP) paling lambat triwulan IV 2026. Dana tersebut dipakai membangun infrastruktur proyek Uluwatu Estate, antara lain jalan, art gallery, natural park, fasilitas olahraga, dan fasilitas penunjang terkait. Pembangunan dilakukan bertahap dan ditargetkan selesai paling lambat triwulan IV 2028.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














