Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menambah tekanan bagi pasar saham Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko kerugian investasi bagi investor asing dan berpotensi mendorong berlanjutnya arus modal keluar atau capital outflow dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tekanan terhadap pasar saham domestik terlihat dari aksi jual bersih investor asing. Sejak awal tahun hingga akhir perdagangan Selasa (27/10/2026), nilai jual bersih asing di seluruh pasar saham telah mencapai Rp 97,37 triliun.
Sementara itu, nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,15% ke level Rp 18.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan tekanan capital outflow. Pasalnya, investor asing menghadapi risiko ganda berupa penurunan harga saham dan kerugian akibat pelemahan nilai tukar.
Baca Juga: Merdeka Gold (EMAS) Kantongi Fasilitas Pinjaman US$ 435 Juta, Ini Penggunaannya
"Tekanan jual dapat berlanjut selama rupiah belum stabil dan ketidakpastian pasar masih tinggi," kata Alrich kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Menurut Alrich, tanda-tanda pemulihan pasar perlu dicermati melalui stabilisasi nilai tukar rupiah, meredanya aksi jual investor asing, serta meningkatnya kembali kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Meski demikian, ia menilai belum ada kepastian mengenai kapan tekanan tersebut akan berakhir. Pergerakan pasar saham masih akan dipengaruhi oleh stabilitas nilai tukar dan perkembangan sentimen yang memengaruhi keputusan investasi.
Dari sisi emiten, investor perlu mencermati perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS dalam jumlah besar, ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, serta pendapatan yang mayoritas berasal dari rupiah.
Alrich mencontohkan sektor penerbangan, seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), dan sektor petrokimia, seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Namun, besarnya dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja kedua emiten tersebut tetap bergantung pada struktur utang dan strategi lindung nilai atau hedging yang diterapkan masing-masing perusahaan.
Baca Juga: Energi Mega Persada (ENRG) Catat Laba Bersih US$ 72,81 Juta hingga September 2026
Sebaliknya, perusahaan eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS berpotensi mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah. Meski demikian, dampak positif tersebut tetap dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas dan biaya produksi yang ditanggung perusahaan.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar saham domestik karena meningkatkan risiko investasi, khususnya bagi investor asing yang menghadapi potensi kerugian kurs saat mengonversi hasil investasinya ke mata uang asal.
Namun, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak semata-mata disebabkan oleh pelemahan rupiah. Tekanan pasar juga dipengaruhi oleh arus keluar dana asing, ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), serta kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














