Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melemah pada Rabu (28/10/2026) setelah naik hampir 1% pada perdagangan sebelumnya.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, sementara investor menanti keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,7% menjadi US$ 4.030,20 per ons pada pukul 06.02 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember terkoreksi 0,8% ke level US$ 4.043 per ons.
Analis ANZ, Soni Kumari, mengatakan pergerakan harga emas saat ini dipengaruhi ekspektasi suku bunga dan risiko inflasi akibat kenaikan harga energi.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Investor Tetap Waspadai Kebijakan The Fed
“Hal ini membuat The Fed tetap berhati-hati, yang menjadi tekanan utama bagi harga emas dalam jangka pendek,” kata Kumari.
Harga minyak naik lebih dari 1% pada Rabu setelah serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan dari salah satu eksportir minyak utama dunia.
Kenaikan harga energi berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Investor menanti keputusan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada pukul 18.00 GMT atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Jelang Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole
Pasar juga menunggu data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis (29/10/2026), salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral tersebut untuk mencapai target inflasi 2%.
Pelaku pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperhitungkan peluang sekitar 84% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember.
Survei Reuters terhadap ratusan ekonom juga menunjukkan inflasi global diperkirakan masih bertahan tinggi hingga tahun depan.
Tekanan terhadap emas turut tercermin dalam proyeksi harga jangka panjang. Survei Reuters menunjukkan para analis kembali memangkas proyeksi harga emas untuk 2026 selama dua kuartal berturut-turut.
Pemangkasan tersebut dipengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi, penguatan dolar AS, serta ekspektasi suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Meski demikian, para analis masih memperkirakan harga emas akan pulih pada 2027.
Baca Juga: Harga Emas Menguat, Pasar Menanti Pernyataan Bos The Fed di Jackson Hole
Proyeksi harga platinum dan paladium untuk 2026 juga dipangkas selama tiga kuartal berturut-turut.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1% menjadi US$ 53,82 per ons. Platinum melemah 0,9% ke US$ 1.526,74 per ons, sedangkan paladium relatif stabil di US$ 1.025,63 per ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














