Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Ekonom mengatakan, penguatan mata uang Garuda ditopang oleh derasnya aliran dana asing (capital inflow) ke pasar surat utang negara (SUN).
Melansir Bloomberg pada Selasa (7/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.980 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,08% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya berada di level Rp 17.995 per dolar AS.
Sejalan, kurs rupiah Jisdor menguat tipis 0,06% menjadi Rp 17.988 per dolar AS.
Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, mengatakan masuknya dana asing ke pasar obligasi dipicu oleh pelaksanaan lelang SUN yang menawarkan sejumlah seri acuan (benchmark) yang likuid, seperti FR108, FR109, serta Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tenor 12 bulan.
Baca Juga: Rupiah Menguat Ditopang Kenaikan Cadangan Devisa, Pelaku Pasar Masih Wait and See
"Lalu yang kedua juga investor masih tertarik untuk masuk ke pasar surat utang negara kita mengingat imbal hasilnya menarik," ujar Myrdal saat dihubungi Kontan, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, spread imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dengan obligasi pemerintah AS masih berada di kisaran 265 basis poin. Kondisi tersebut dinilai cukup menarik bagi investor global untuk menempatkan dananya di pasar obligasi domestik.
Selain itu, minimnya agenda rilis data ekonomi di Amerika Serikat pada pekan ini juga mendorong investor global untuk sementara mengalihkan dana ke pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.
Myrdal menjelaskan, sentimen juga datang dari data ketenagakerjaan Non-Farm Payroll (NFP) yang jauh dari ekspektasi pasar. "Apalagi inflasi dari sisi energi saat ini juga menunjukkan tren yang menurun," katanya.
Dari dalam negeri, Myrdal bilang, prospek neraca perdagangan Indonesia juga berpotensi kembali mencatat surplus pada Juli 2026.
Penurunan harga minyak dunia serta kinerja ekspor yang masih terjaga diperkirakan turut menopang fundamental rupiah, meski terdapat sejumlah komoditas yang ekspornya dibatasi untuk menjaga daya saing dan ketersediaan sumber daya alam di dalam negeri.
Ia juga menilai berakhirnya musim pembagian dividen emiten turut mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar AS, sehingga memberi ruang bagi penguatan rupiah.
Baca Juga: Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Membaik, Cermati Rekomendasi Analis
Meski demikian, Myrdal memperkirakan, pergerakan rupiah masih cenderung terbatas dalam jangka pendek. Menurutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda domestik, seperti lelang SUN, lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), kebijakan terbaru dari Bank Indonesia dan pemerintah, serta perkembangan data ekonomi nasional.
Dari domestik, kenaikan cadangan devisa juga menjadi katalis positif bagi pergerakan rupiah pada pekan ini. Diketahui posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar US$ 145,6 miliar, sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar US$ 144,9 miliar.
Secara teknikal, Myrdal menilai tren pergerkana rupiah dalam satu bulan terakhir masih berada dalam kecenderungan menguat.
Ia memperkirakan, level resistance dalam jangka pendek, Rabu (8/7/2026) berada di kisaran Rp 18.064 per dolar AS, sedangkan level support berada di sekitar Rp 17.848 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














