Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten sektor poultry pada kuartal III-2026 diperkirakan masih positif seiring berlanjutnya implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menopang permintaan protein hewani. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko, mulai dari kenaikan biaya pakan hingga potensi pelemahan harga ayam hidup (live bird).
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, prospek sektor poultry hingga kuartal III-2026 masih didukung oleh meningkatnya permintaan dari program MBG. Ia menuturkan, jumlah penerima MBG terus meningkat dari 53,8 juta orang pada Desember 2025 menjadi 60,2 juta orang pada Februari 2026.
Di sisi lain, tambahan permintaan ayam dari program tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 431.000 ton pada 2026, meningkat dibandingkan sekitar 216.000 ton pada 2025.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham JPFA, MAIN, CPIN dari Analis Berikut
"Secara struktural, permintaan dari MBG semakin besar sepanjang tahun. Selama program ini berjalan sesuai anggaran, prospek sektor menuju kuartal III-2026 masih positif," ujar Hari kepada Kontan, Jumat (4/7).
Optimisme tersebut juga tercermin dari realisasi kinerja emiten pada kuartal I-2026. Laba bersih PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) meningkat 167% secara tahunan (YoY), sedangkan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) tumbuh 67,7% YoY atau melampaui ekspektasi pasar.
Selain dorongan dari MBG, Hari menilai harga jagung yang relatif stabil setelah musim panen Februari-April serta perbaikan keseimbangan pasokan dan permintaan broiler turut menjadi katalis positif. Oversupply broiler diproyeksikan menyusut dari sekitar 33,3% pada 2023 menjadi 17,5% pada 2026.
Namun, sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Hari menyebut potensi pelemahan harga DOC dan broiler, kenaikan harga soybean meal (SBM), biaya pakan yang meningkat, penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, hingga perubahan kebijakan MBG setelah masa evaluasi dan libur sekolah menjadi faktor yang dapat membebani kinerja emiten pada semester II-2026.
Senada, Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo Wibowo menilai prospek emiten poultry pada kuartal III masih cukup baik meski tidak sekuat semester pertama.
"Kami memperkirakan kinerja masih tumbuh positif, didukung harga live bird dan DOC yang relatif stabil serta permintaan yang membaik seiring meningkatnya konsumsi domestik," kata Azis.
Baca Juga: Skema Impor Bungkil Kedelai Topang Margin, Sektor Poultry Masih Layak Dikoleksi
Menurutnya, investor perlu mencermati perkembangan harga jagung dan SBM global, stabilitas harga live bird, kebijakan pemerintah dalam mengatur pasokan DOC, implementasi MBG, serta pergerakan nilai tukar rupiah yang memengaruhi biaya produksi.
Sementara itu, pandangan berbeda diberikan oleh Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, khususnya terhadap PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN). Ia menilai prospek MAIN pada kuartal III cenderung moderat hingga negatif karena memiliki skala usaha paling kecil dibandingkan dua integrator besar lainnya.
"MAIN paling rentan terhadap tekanan harga live bird dan penyempitan margin. Selain itu, pemangkasan anggaran MBG menjadi headwind yang belum sepenuhnya terserap industri," jelas Wafi.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor bahan baku serta kondisi neraca keuangan MAIN yang lebih terbatas membuat ruang perusahaan untuk menyerap tekanan margin lebih kecil dibandingkan CPIN maupun JPFA.
Menurut Wafi, investor perlu mencermati perkembangan harga live bird, efektivitas distribusi SBM melalui Berdikari, realisasi volume MBG, serta pergerakan nilai tukar rupiah sebagai sentimen utama bagi emiten poultry.
Dari sisi rekomendasi, Hari mempertahankan rekomendasi buy untuk CPIN dengan target harga Rp 5.900 per saham dan buy untuk JPFA dengan target harga Rp 3.400.
Sementara itu, Wafi merekomendasikan accumulate untuk CPIN karena memiliki fundamental dan neraca keuangan paling kuat, hold untuk JPFA berkat diversifikasi bisnis aquafeed, serta wait and see terhadap MAIN selama tekanan harga live bird dan kondisi oversupply belum mereda.
Baca Juga: Tawarkan Kupon Hingga 7%, SBN Ritel ORI030 Bisa Jadi Pilihan Investor
Adapun Azis memberikan rekomendasi buy untuk MAIN dengan target harga Rp 750 per saham. Ia juga merekomendasikan buy untuk JPFA dengan target Rp 3.140 dan CPIN dengan target Rp 3.660 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- nilai tukar rupiah
- JPFA
- CPIN
- harga jagung
- MAIN
- Program Makan Bergizi Gratis
- Sektor Peternakan
- Saham Poultry
- rekomendasi saham CPIN
- rekomendasi saham JPFA
- rekomendasi saham MAIN
- investasi saham unggas
- analisis saham poultry
- prospek poultry 2026
- harga ayam live bird
- biaya pakan ayam
- margin poultry
- harga SBM














