kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

Harga Emas Melandai, Laju Pertumbuhan Kinerja Emiten Emas Berpotensi Melambat


Selasa, 07 Juli 2026 / 18:58 WIB
Harga Emas Melandai, Laju Pertumbuhan Kinerja Emiten Emas Berpotensi Melambat
ILUSTRASI. Peleburan Emas di Pabrik Pengolahan ANTAM (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia tampak menuju ke fase normalisasi, sehingga dapat mempengaruhi kinerja emiten-emiten produsen komoditas tersebut dalam waktu dekat.

Mengutip situs Trading Economics, harga emas dunia telah terkoreksi 4,20% dalam sebulan terakhir ke level US$ 4.135,11 per ons troi pada Selasa (7/7) pukul 18.05 WIB. Sejak awal tahun, harga emas telah menyusut 4,26% year to date (ytd). Namun, dalam rentang setahun terakhir, kinerja harga logam mulia ini masih tumbuh 25,27% year on year (yoy).

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, koreksi harga emas akhir-akhir ini memang berpotensi membuat laju pertumbuhan kinerja kuartalan emiten emas menjadi lebih moderat dibandingkan beberapa kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Pelemahan Harga Ayam Tekan Kinerja Japfa (JPFA), Ini Katalis Penopang Kinerjanya

Namun, selama harga emas masih bertahan di level historis yang relatif tinggi, margin keuntungan emiten produsen emas tetap berada dalam kondisi yang baik. Dengan demikian, penurunan harga saat ini lebih berpotensi menimbulkan normalisasi pertumbuhan, alih-alih membalikkan tren menjadi negatif.

Selain itu, euforia kenaikan pendapatan dan laba yang sempat didorong oleh reli harga emas kemungkinan mulai mereda karena basis perbandingan (high base effect) yang semakin tinggi, sementara ruang kenaikan harga emas tidak lagi sebesar awal tahun.

"Oleh karena itu, investor diperkirakan akan mulai lebih memperhatikan pertumbuhan volume produksi dan efisiensi operasional dibandingkan hanya mengandalkan kenaikan harga komoditas," ungkap dia, Selasa (7/7/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, ada risiko kinerja keuangan emiten emas cenderung melandai pada semester II-2026. Namun, dengan posisi harga emas di kisaran US$ 4.100 per ons troi, margin yang diperoleh emiten sebenarnya masih cukup tebal. Ini mengingat, harga emas dunia saat ini masih jauh di atas biaya produksi sekitar US$ 1.200--US$ 1.500 per ons troi.

"Jadi yang melandai adalah tingkat pertumbuhan, karena high base effect bikin perbandingan kinerja tahunan cenderung berat di kuartal III dan IV," terang dia, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga: Chandra Daya Investasi (CDIA) Akuisisi Saham Anak Usaha CUAN, Simak Rekomendasinya

Wafi menilai emiten yang bisa mengkompensasi penurunan harga dengan kenaikan volume produksi dan penjualan emas relatif lebih tahan banting dalam kondisi pasar terkini.

Lebih lanjut, pada dasarnya fundamental permintaan komoditas emas tergolong masih solid. Hal ini didukung oleh tren pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia yang dapat menjadi jangkar permintaan struktural komoditas tersebut.

Tantangan utama yang berpotensi dihadapi emiten emas antara lain biaya produksi yang naik seiring pelemahan rupia dan inflasi harga bahan baku, potensi revisi tarif royalti, dan risiko eksekusi peningkatan kapasitas produksi tambang yang tersendat.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima mengatakan, sektor emas masih ditopang oleh ketidakpastian ekonomi global, diversifikasi cadangan emas bank sentral, dan kebutuhan lindung nilai (safe haven). Risiko utama bagi harga emas berasal dari sentimen suku bunga acuan global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

"Di luar faktor harga komoditas, kinerja emiten emas pada tahun ini akan ditentukan oleh kemampuan meningkatkan volume produksi, efisiensi biaya, pengelolaan cadangan, dan eksekusi proyek ekspansi secara tepat waktu," jelas dia, Selasa (7/7/2026).

Arinda menimpali, di tengah normalisasi harga emas, emiten perlu memperkuat efisiensi biaya produksi, menjaga keberlanjutan cadangan melalui eksplorasi, serta mengoptimalkan kapasitas produksi agar mampu mempertahankan margin ketika harga emas mengalami konsolidasi. Disiplin dalam alokasi belanja modal dan pengelolaan arus kas juga menjadi faktor penting untuk menjaga profitabilitas.

Baca Juga: Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Membaik, Cermati Rekomendasi Analis

Dia pun menyebut saham MDKA dan BRMS dapat dicermati oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 4.000 per saham dan Rp 1.000 per saham.

Di lain pihak, Raden memiliki beberapa saham emiten emas pilihan yang dapat dipertimbangkan oleh investor. Di antaranya adalah ANTM dengan target harga di level Rp 3.200 per saham dan stop loss di level Rp 2.850 per saham, MDKA dengan target harga Rp 2.980 per saham dan stop loss Rp 2.660 per saham, serta ARCI dengan target harga Rp 1.150 per saham dan stop loss Rp 970 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×