CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Rupiah Berisiko Melemah Jumat (11/9), Pasar Cermati Konflik Timteng dan Inflasi AS


Kamis, 10 September 2026 / 16:51 WIB
Rupiah Berisiko Melemah Jumat (11/9), Pasar Cermati Konflik Timteng dan Inflasi AS
ILUSTRASI. Tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali meningkat pada perdagangan Jumat (11/9). pelaku pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat (AS)  (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali meningkat pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Selain perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pelaku pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Melansir data Bloomberg pada Kamis (10/9/2026), rupiah berada di level Rp 17.547 per dolar AS atau melemah 0,21%.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di Rp 17.536 per dolar AS pada Kamis (10/9/2026), menguat 0,09% dari Rp 17.552 per dolar AS pada hari sebelumnya.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Kamis (10/9/2026) ditutup melemah seiring dengan menguatnya indeks dolar AS yang dipicu memanasnya ketegangan geopolitik global.

Baca Juga: Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp 17.450 - Rp 17.650 pada Jumat (11/9)

Pelemahan rupiah tersebut, lanjut Ibrahim, sedikit tertahan oleh sentimen positif dari rilis indeks keyakinan konsumen domestik pada Agustus yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Untuk perdagangan Jumat (11/9/2026), Ibrahim menilai penguatan indeks dolar AS masih berpotensi menjadi sumber tekanan bagi rupiah. Kondisi tersebut dipengaruhi eskalasi pertempuran serius antara AS dan Iran di Selat Hormuz serta serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

"Serangan Houthi tersebut memperparah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan di kawasan Teluk akan meluas hingga ke luar wilayah Hormuz, sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Selain perkembangan harga minyak dunia, perhatian pasar menjelang akhir pekan juga tertuju pada rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS.

Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan dicermati pelaku pasar untuk memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed menjelang pertemuan pekan depan. CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas pasar mencapai 60% untuk kenaikan suku bunga acuan.

Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak mentah eksternal juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pasalnya, peningkatan harga minyak dapat mendorong pembengkakan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi.

Baca Juga: China Kembali Borong Minyak, Harga Minyak Dunia Berpeluang Terus Naik

Kenaikan nilai impor minyak akibat harga yang lebih tinggi juga berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS. Di sisi lain, tekanan harga minyak dapat memicu risiko inflasi apabila pemerintah pada akhirnya perlu melakukan penyesuaian terhadap harga BBM domestik.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi diredam oleh sentimen positif dari konsumen domestik yang tetap optimistis terhadap prospek ekonomi dan kondisi keuangan rumah tangga.

"Walaupun peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat, demi menopang belanja, masyarakat masih terjerat fenomena makan tabungan," ujar Ibrahim.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (11/9/2026), tetapi berpotensi ditutup melemah.

Ia memperkirakan rupiah berada dalam rentang Rp 17.540 hingga Rp 17.590 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×